Pertamina Terapkan 2 Skema agar Singapura Simpan BBM di Indonesia

    Suci Sedya Utami - 28 September 2020 14:37 WIB
    Pertamina Terapkan 2 Skema agar Singapura Simpan BBM di Indonesia
    Ilustrasi. Foto: MI/Panca Syurkani
    Jakarta: PT Pertamina (Persero) berencana menerapkan program supplier held stock (SHS) sebagai upaya memperkuat stok bahan bakar minyak (BBM) nasional.

    Direktur Logistik dan Infrastruktur Pertamina Mulyono mengatakan, selama ini Pertamina banyak menambah stok BBM dari impor. Impor tersebut berasal dari supplier minyak di Singapura dan disimpan di negara tersebut.

    Mulyono mengatakan dengan program SHS, nantinya supplier tersebut diminta untuk menyimpan stok BBM yang sudah berkontrak dengan Pertamina di storage yang ada di dalam negeri.

    "Kami akan beli BBM jangka panjang 10 tahun, misalnya. Tetapi kami minta stoknya disimpannya di Indonesia, bukan di Singapura. Kalau semua stok disimpan di Indonesia, secara enggak langsung itu menjadi stok nasional," kata Mulyono dalam acara pelatihan media secara daring, Senin, 28 September 2020.

    Mulyono menjelaskan selain berdampak positif pada data stok nasional, SHS juga akan berdampak pada penurunan biaya distribusi dan stok. Biaya inventory akan ditanggung oleh supplier tersebut.

    Pertamina, kata Mulyono, baru akan membayar ketika barangnya sudah diambil di terminal BBM yang ada di Indonesia. Dampak lainnya yakni Pertamina tidak perlu lagi mengeluarkan belanja modal (capex) untuk membangun fasilitas penyimpanan (storage). Sebab, capex akan ditanggung oleh supplier yang membangun storage di lahan yang disediakan oleh perusahaan.

    "Kami enggak perlu capex, pokoknya saya mau beli kalau disiapkan storage-nya di Indonesia," tutur Mulyono.

    Untuk mengakselerasi pembangunan infrastruktur storage dengan sistem bermitra, Pertamina menawarkan skema build operate transfer (BOT) dan build own operate transfer (BOOT).

    "Jadi kami akan cari mitra, kami akan minta bangun terminal BBM, LPG, pipanisasi. Nanti kami akan bayar dengan sistem BOT, dia bangun, dia operasikan dalam waktu 10 tahun akan ditransfer ke Pertamina, dalam 10 tahun harus jadi milik Pertamina," ucap Mulyono.

    Lebih lanjut Mulyono menambahkan, apabila SHS berjalan, maka kewajiban terkait penyediaan cadangan BBM dengan usia 23 hari yang diperintahkan oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) bisa dilaksanakan.

    "Kalau SHS jalan, 23 hari itu Pertamina hanya cukup (menyetok) sedikit saja, karena yang lainnya ditanggung supplier-supplier itu," jelas Mulyono.

    Adapun SHS bukan hanya diperuntukkan bagi BBM, tetapi juga LPG dan minyak mentah yang diimpor oleh Pertamina. 

    (DEV)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id