comscore

LPEI Dorong Ekspor Peti Ramah Lingkungan ke Eropa dan AS

Eko Nordiansyah - 15 Januari 2022 15:01 WIB
LPEI Dorong Ekspor Peti Ramah Lingkungan ke Eropa dan AS
LPEI mendorong ekspor ekspor peti ramah lingkungan masuk pasar ekspor Eropa dan Amerika Serikat (AS). Foto: dok. LPEI
Jakarta: Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/Indonesia Eximbank mendorong ekspor ekspor peti ramah lingkungan atau green coffin untuk masuk pasar ekspor Eropa dan Amerika Serikat (AS). Dukungan LPEI diberikan melalui pendampingan kepada anggota Asosiasi Pengembangan Industri Kerajinan Indonesia (APIKRI).

Produk seperti itu diminati pasar Eropa hingga AS karena negara-negara ini memiliki kesadaran terhadap lingkungannya relatif sudah tinggi. Kayu-kayu sebagai rangka penguat peti menggunakan kayu yang sudah memiliki sertifikat Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) sebagai syarat untuk bisa masuk ke pasar Eropa.
Corporate Secretary LPEI Chesna F. Anwar mengatakan, LPEI membantu pengrajin untuk bisa memasarkan produknya ke luar negeri. Hasilnya, jika dihitung rata-rata per bulan dengan ekspor sebanyak tiga kontainer senilai Rp450 juta, maka dalam setahun ekspornya dapat mencapai lebih dari Rp5 miliar.

"Sejak 2017 kami mendampingi para pengrajin melalui APIKRI, dan Alhamdulillah sejak 2019 para pengrajin sudah bisa mengekspor. Ekspor perdana ke Belanda di 2019 nilainya sekitar Rp150 juta, lalu disusul ekspor ke Amerika Serikat," kata dia dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 15 Januari 2022.

Pemilik usaha Eco Green di Desa Trangsan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Purwanto mengungkapkan, produknya memiliki pasar tetap di Eropa dan AS. Uniknya, peti ini dibuat dari bahan ramah lingkungan mulai dari rotan, eceng gondok, mendong, rami, pelepah pisang, dan aneka bahan alam lain yang disebut sebagai green coffin.

"Saya memulai bisnis ini pada 2002. Permintaannya terus naik dari tahun ke tahun. Apalagi setelah kami mendapat pendampingan dan pembinaan, juga dibantu mencari pasar dan permodalan. Dari bisnis ini, kami bisa mempekerjakan kurang lebih 100 orang," ujar dia.

Melalui APIKRI, setidaknya tiga kontainer berisi 80 peti mati dikirim ke luar negeri setiap bulan, sehingga total yang terjual mencapai 240 buah peti. Tidak hanya produksi peti buatan Purwanto, APIKRI juga menampung produk sejenis buatan produsen dari tiga klaster usaha di Kabupaten Gunung Kidul, Bantul dan Kulon Progo.

"Yang lebih menggembirakan, pekerja langsung yang terserap dari bisnis ini ikut meningkat. Yang ikut menikmati manisnya bisnis peti ini sangat banyak, mulai dari pengumpul eceng gondok, pelepah pisang, sampai dengan tukang pembuatnya," ungkap Ketua APIKRI Kemiskidi.

Lebih lanjut, Chesna menambahkan, LPEI berkomitmen membukakan pasar yang lebih luas bagi pengrajin, termasuk menyediakan permodalan untuk pengembangan usaha ini. Apalagi prospek bisnis ini terbilang menjanjikan dengan semakin meningkatnya permintaan produk ramah lingkungan di pasar luar negeri.

"LPEI memiliki mandat dari pemerintah untuk mendorong ekspor. Jadi, kami sangat serius membantu para pengrajin melalui asosiasi. Kami optimistis produk yang unik ini punya pasar yang sangat besar di luar negeri," pungkasnya.

(DEV)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id