Dahlan Iskan Kurang Setuju BUMN Terlalu Dominan

    Husen Miftahudin - 18 Mei 2020 17:54 WIB
    Dahlan Iskan Kurang Setuju BUMN Terlalu Dominan
    Ilustrasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) . Foto : Medcom/Annisa Ayu.
    Jakarta: Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan sempat menyatakan ketidaksetujuannya apabila perusahaan pelat merah terlalu mendominasi aktivitas perekonomian nasional. Bisnis yang dijalankan negara lewat perusahaan BUMN dikhawatirkan mengganggu kesejahteraan rakyat.

    "Kan negara itu didirikan untuk menyejahterakan rakyat, bukan untuk berbisnis. Tetapi kok punya BUMN di mana negara menjadi berbisnis dan kemudian seolah-olah negara bersaing dengan rakyatnya," ujar Dahlan dalam seminar daring di Jakarta, Senin, 18 Mei 2020.

    Menurut Dahlan, negara seharusnya memberi kesempatan kepada rakyatnya untuk menjalankan bisnis dan usahanya masing-masing. Bila negara berbisnis, maka rakyatnya akan kalah saing.

    Kegelisahan itu sempat diungkapkan Dahlan sewaktu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hendak mengangkat Dahlan sebagai Menteri BUMN.  

    "Tapi Presiden waktu itu bilang bahwa BUMN ini kan peninggalan Belanda dan harus diteruskan, karena itu saya sadar bahwa saya salah menjadi Menteri BUMN," sesalnya.

    Namun, sesal Dahlan tak berujung pada penolakan tawaran SBY. Dahlan justru mengambil tantangan tersebut, dan berjanji untuk memajukan perusahaan negara agar bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat.

    Direktur Utama PT PLN (Persero) periode 2009-2011 ini punya misi agar semua perusahaan BUMN melantai di bursa (go public). Hal tersebut dimaksudkan agar perusahaan negara bisa dimiliki oleh rakyat.

    "Tetapi tidak bisa go public begitu saja, harus diperbaiki dulu. Performance-nya harus lebih baik, semuanya harus lebih baik, baru kemudian go public," urai Dahlan.

    Meski tak setuju BUMN mendominasi aktivitas perekonomian nasional, namun Dahlan juga merasa bahwa perusahaan-perusahaan pelat merah juga berperan besar. Utamanya dalam menjaga keuangan, seperti saat krisis resesi global pada 2008.

    "Meskipun saya termasuk golongan yang tidak setuju BUMN itu dominan, tetapi pada tahun 2008 ketika terjadi krisis perbankan dan moneter, maka ternyata saya harus bersyukur. Seandainya bank-bank besar di Indonesia tidak dimiliki oleh BUMN, munkgin semua bank di Indonesia sekarang sudah dimiliki oleh asing. Jadi ternyata ada baiknya juga ada BUMN," tukas Dahlan.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id