Alasan Pertamina Batal Bangun Kilang Bontang

    Suci Sedya Utami - 31 Agustus 2020 20:34 WIB
    Alasan Pertamina Batal Bangun Kilang Bontang
    Pertamina. Foto : Setkab.
    Jakarta: Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati membeberkan alasan membatalkan pembangunan grass root refinery (GRR) atau kilang baru Bontang.

    Perseroan memutuskan untuk merevisi rencana pembangunan kilang GRR dari awalnya dua hanya menjadi satu, yakni di Tuban. Nicke mengatakan akan ada perubahan permintaan (demand) energi fosil seiring upaya mendorong energi bersih dan ramah lingkungan.

    "Kita lihat asumsi demand terjadi perubahan yang signifikan akibat disrupsi kebijakan pemerintah untuk biodiesel, gasifikasi pembangkit dan mobil listrik. Ini yang mendasari kita mengkaji rencana pembangunan kilang, GRR jadi cuma satu," kata Nicke dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 31 Agustus 2020.

    Sedangkan proyek refinery development master plan (RDMP) atau revitalisasi kilang tetap dilakukan di empat kilang existing milik Pertamina yakni di Balikpapan, Cilacap, Balongan, dan Plaju. Pembangunan dan pengembangan kilang-kilang ini akan menambah kapasitas produksi BBM Pertamina. Selain untuk memenuhi pasokan dalam negeri, peningkatan kapasitas kilang dipercaya akan menekan impor BBM.

    Saat ini perbandingan rata-rata produksi kilang BBM Pertamina dan permintaan BBM di dalam negeri sebesar 42 juta kiloliter (KL) berbanding 59 juta KL. Artinya ada selisih 17 juta KL yang masih perlu dipenuhi dari impor.

    Berdasarkan data Pertamina, produksi BBM baru bisa melebihi permintaan pada 2026 ketika seluruh kilang baru dan pengembangan dioperasikan sehingga menambah pasokan sebesar 27 juta KL. Adapun di 2023 akan ada tambahan pasokan sebesar 11 juta KL dan  di 2025 tambahan sebesar 17 juta KL.

    Dengan demikian, produksi BBM Pertamina sejak 2027 hingga 2023 diproyeksikan bakal stabil pada 86 juta KL per tahunnya dengan potensi pasokan berlebih yang bisa dialihkan ke pasar ekspor sekitar 22 juta KL per tahun dengan potensi penjualan USD11 juta per tahun.

    "Ketika kilang-kilang kita sudah mulai beroperasi, maka kebutuhan crude meningkat. Kebutuhan impor mulai 2026 tidak perlu lagi. Crude ini, meningkatkan produksi dan cadangan hulu migas," jelas Nicke.


    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id