BPH Migas: Digitalisasi SPBU Pertamina Belum Lengkap Tanpa CCTV

    Suci Sedya Utami - 27 Januari 2021 20:01 WIB
    BPH Migas: Digitalisasi SPBU Pertamina Belum Lengkap Tanpa CCTV
    Salah satu yang terpenting dalam digitalisasi SPBU adalah pemasangan CCTV. Foto: Dok. Pertamina.



    Jakarta: Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas mencatat realisasi program digitalisasi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang telah terpasang Automatic Tank Gauge (ATG) pada nozzle mencapai 5.471 SPBU. Capaian digitalisasi SPBU sebesar 99,15 persen dari target 5.518 SPBU.

    Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa mengatakan dari total SPBU tersebut, sebanyak 5.448 SPBU atau 98,73 persen yang telah terpasang Electronic Data Capture (EDC) yang terkoneksi dengan mesin EDC Link Aja.




    Dirinya menjelaskan digitalisasi SPBU ditujukan untuk mengawasi penyaluran BBM subsidi solar dan BBM penugasan premium bisa tepat volume dan tepat sasaran.

    Namun, kata pria yang akrab disapa Ifan ini, sebenarnya ada tiga tahapan dalam digitalisasi SPBU untuk mencapai tujuan tepat sasaran. Selain memasang ATG dan EDC, yang terpenting adalah pemasangan kamera CCTV.

    Sayangnya sampai saat ini, pemasangan CCTV analytic tidak terealisasi atau masih nol persen. CCTV tersebut nantinya akan mencatat nomor polisi kendaraan yang seharusnya berhak meminum solar atau premium.

    "Kata kuncinya sebenarnya bukan di ATG atau EDC, tapi mencatat nomor polisi melalui CCTV. Ini yang belum ada dalam kontrak kesepakatan antara Pertamina dan Telkom. Sementara BPH Migas tidak pernah terlibat masalah spesifkasi itu," kata Ifan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI, Rabu, 27 Januari 2021.

    Selama ini, pencatatan nomor polisi dilakukan melalui mesin EDC di 3.821 SPBU atau baru 69,25 persen dari total SPBU yang ada. Ifan berharap ke depannya pencatatan bisa dilakukan secara otomatis dengan terpasangnya CCTV analytic.

    Sedangkan SPBU yang terdigitalisasi dengan status BAST atau terintegrasi dengan pusat data pertamina sudah mencapai 5.147 SPBU atau 93,28 persen. Kemudian SPBU yang terdigitalisasi pada dashboard mencapai 3.988 SPBU atau 72,27 persen.

    Ifan menjelaskan, memang dalam proses digitalisasi ini banyak kendala. Pertama, adanya keterlambatan pada saat instalasi perangkat IT. Ia mengatakan pemasangan alat yang sudah melalui proses integrasi masih harus menunggu approval dari Pertamina.

    Kedua, kata dia masih banyak pengusaha SPBU yang menolak melakukan digitalisasi. Salah satu alasannya adanya perbedaan tinggi pada tutup tangki timbun yang menyebabkan perlunya penyesuaian perangkat ATG saat instalasi.

    "Terakhir, tidak semua nozzle itu aktif untuk merekam penjualan," jelas Ifan.
     

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id