Bangun Smelter di Weda Bay Halmahera, Investasi Freeport Bisa Dihemat

    Suci Sedya Utami - 01 April 2021 19:06 WIB
    Bangun <i>Smelter</i> di Weda Bay Halmahera, Investasi Freeport Bisa Dihemat
    Ilustrasi tambang freeport. Foto: MI/Agus



    Jakarta: PT Freeport Indonesia (PTFI) memiliki alternatif lokasi baru untuk membangun smelter tembaga di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara sebagai syarat yang harus dipenuhi dalam perpanjangan kontrak izin usaha pertambangan khusus (IUPK).

    Saat ini, smelter tersebut tengah dibangun di kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE)-Gresik, Jawa Tengah. Hingga akhir 2020, pogres pembangunannya baru mencapai enam persen dari yang seharusnya 10 persen.






    Direktur Utama MIND ID Orias Petrus Moedak mengatakan, Freeport mendapatkan mendapatkan tawaran dari perusahaan asal Tiongkok Tsingshan Steel untuk membangun smelter tembaga di Weda Bay. Tawaran tersebut menggiurkan, sebab nilai investasinya lebih kecil dibanding yang tengah dibangun di Gresik.

    "Kalau keputusan akhirnya itu ada di Halmahera, misalnya, itu angkanya tidak akan terlalu besar karena memang porsi kita akan minoritas di sana. Kita sekitar 25-30 persen dan 70 persen adalah porsi Tsingshan," kata Orias dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI yang dikutip Kamis, 1 April 2021.

    Meskipun untuk saat ini, Orias bilang, belum ada keputusan terkait nasib smelter ke depannya, apakah tetap melanjutkan di Gresik atau pindah haluan ke Weda Bay. Namun, sampai saat ini PTFI tetap menjalankan pembangunan smelter di Gresik yang sekarang tengah digarap.

    Namun, apabila tetap dibangun di Gresik, Orias mengakui memang investasinya jauh lebih besar. Hitung-hitungannya untuk membangun smelter yang akan mampu mengolah dua juta ton konsentrat tembaga per tahun dan fasilitas pemurnian logam berharga atau precious metal refinary (PMR) berkapasitas 6.000 ton per tahun membutuhkan investasi sekitar USD3 miliar.

    "Itu struktur yang diperhitungkan supaya dana yang akan dikeluarkan oleh Freeport tidak terlalu besar. Itu hitung-hitungan yang membuat mengapa kita harus memikirkan alternatif itu," ujar dia.

    Tak berhenti di smelter

    Lebih jauh, Orias mengatakan pembangunan smelter ini bahkan tidak menguntungkan bagi perusahaan. Selain nilai investasinya tinggi, usia IUPK Freeport hanya tersisa 20 tahun lagi hingga 2041. Namun sebagai komitmen Freeport harus tetap membangunnya demi program hilirisasi yang dijalankan pemerintah.

    "Kalau menyebabkan rugi, ya rugi. Tapi kalau dilihat secara hilir, secara global bisa untung. Kita harus memilih hilir karena akan sayang sekali kalau berhenti di smelter, rugi," tutur Orias.

    Dalam kesempatan yang sama Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PDIP Donny Maryadi Oekon pun sepakat bahwa hilirisasi ini tidak boleh berhenti dengan terbangunnya smelter tanpa ada industri hilir turunan yang bisa menopang. Maka dari itu, lanjut Oekon, hilirisasi ini bukan hanya pekerjaan rumah bagi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang harus didorong, tetapi juga Kementerian Perindustrian.

    "Kalau bicara hanya semata-semata smelter ya mereka rugi, karena turunanya tidak ada. Harus bergandengan tangan, sisi industrinya Menperin harus turun tangan," kata Oekon.

    Hal senada juga disampaikan Anggota Komisi VII Fraksi PDIP lainnya Adian Napitupulu. Menurut Adian, jika membangun smelter menguntungkan, maka Freeport tak perlu dipaksa untuk menggarapnya.

    Ia bilang yang menjadi masalah di negeri ini adalah pembangunan yang tidak dilakukan secara utuh dan komperhensif. Seperti membangun smelter namun industri turunannya tidak dibangun. Sehingga hilirisasi tidak berjalan sehingga nilai produk yang dihasilkan pun dihargai rendah.

    "Yang jadi problem, apakah smelter itu menguntungkan? Kalau menguntungkan enggak perlu kita paksa-paksa," jelas Adian.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id