Petani Tebu Mengeluh Harga Gula Diributkan

    Ilham wibowo - 09 Maret 2020 16:21 WIB
    Petani Tebu Mengeluh Harga Gula Diributkan
    Gula. Foto : MI/Susanto.
    Jakarta: Petani tebu mengaku khawatir dengan kebijakan impor gula yang ditujukan untuk stabilitas harga jual di tingkat pengecer. Harga jual gula yang ada saat ini dinilai masih dibutuhkan agar petani bisa menyiapkan pertumbuhan produksi.

    Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen mengatakan bahwa stabilitas harga gula konsumsi di tingkat nasional mestinya bisa diatasi dengan pemenuhan stok di dalam negeri. Kebijakan impor pun dinilai hanya akan membuat daya saing gula hasil olahan tebu petani lokal semakin sulit.

    "Saya pikir mereka bukan mau memenuhi pasar tapi melakukan impor untuk cari untung saja," kata Soemitro kepada Medcom.id, Senin, 9 Maret 2020.

    Soemitro memaparkan penyebab petani tebu di Tanah Air lesu berproduksi lantaran penerapan kebijakan harga eceran tertinggi (HET) gula yang sejak 2016 hingga saat ini sebesar Rp12.500 per kilogram (kg). Besaran HET pun dinilai perlu direvisi atau bahkan dihilangkan agar acuan harga bisa mengikuti mekanisme pasar dan petani tebu mendapat kesejahteraan yang pantas.

    "Di pasar tradisional masih ada hanya harganya 'naik' dibanding HET Pemerintah. Sebetulnya harus disadari bahwa ini menunjukkan HET-nya terlalu rendah," ungkapnya.

    Soemitro mengatakan bahwa harga gula di pasar tradisional tak bisa disamakan dengan pasar ritel yang bisa tetap untung meski menjalankan HET. Besaran harga gula lokal, kata dia, mestinya bisa lebih baik sesuai dengan kemampuan daya beli masyarakat yang terus mengalami kenaikan dengan nilai inflasi stabil.

    "Jangan pakai tolok ukur di Indomart sama Alfamart untuk harga jual gula, mereka takut jual di atas HET Rp12.500, mereka takut kena sanksi dari Kemendag. Inflasi sudah berapa persen semenjak 2016, makanya HET harusnya dicabut saja," ujarnya.

    Soemitro menambahkan bahwa kebijakan impor akan membuat harga gula petani jatuh. Padahal saat ini di beberapa daerah sudah memasuki musim giling.

    "Maret di Sumatra Utara, April Lampung, Mei Jawa dan Sulsel. Jadi tidak mungkin petani menikmati kenaikan harga jika pasarnya dibanjiri gula impor. Kebijakan kita tidak fokus pada peningkatan produksi dan kesejahteraan petani," ungkapnya.  

    APTRI dapat memahami apabila impor dilakukan dengan adanya kelangkaan yang dibuktikan dengan stok di pasar tradisional. Selain itu, impor baru boleh dilakukan apabila sudah terjadi lonjakan harga yang fantastis seperti pada bawang putih.  

    Ia menilai kondisi gula konsumsi yang  seolah-olah langka ini selalu terjadi saat mendekati musim giling. Sehingga, kata dia, kondisi ini sengaja diciptakan untuk memuluskan impor.  Sementara kenaikan harga jual gula, lanjutnya, tidak akan mendorong kenaikan harga bahan pokok lain seperti yang dikhawatirkan.

    Para petani tebu juga merasa bahwa keberpihakan pemerintah terhadap mereka masih kurang dari tidak adanya kenaikan harga patokan gula petani (HPP) yang saat ini Rp9.100 per kg. Mestinya, penetapan HPP 2020 yang dibulatkan sebesar Rp12 ribu akan memberikan jaminan bagi petani tebu di Tanah Air.

    "Yang celaka harga acuan pembelian 2020 juga tetap Rp9.100 per kg. Ini negara mau sejahterakan rakyat konsumen tapi di sisi lain mau sengsarakan petani tebu. Apa biar petani tebu lenyap lalu mereka seenaknya impor-impor melulu," pungkasnya.

    (SAW)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id