Masa Pandemi Jadi Momentum Tepat Memperbaiki Industri Perikanan

    Medcom - 14 Mei 2020 16:07 WIB
    Masa Pandemi Jadi Momentum Tepat Memperbaiki Industri Perikanan
    Wakil Ketua DPR RI Bidang Industri dan Pembangunan Rachmat Gobel. Foto: dok MI.
    Jakarta: Wakil Ketua DPR RI Bidang Industri dan Pembangunan Rachmat Gobel menyebut Indonesia adalah negara dengan garis pantai terpanjang ke dua di dunia. Bahkan potensi ekonomi maritim Indonesia diperkirakan senilai USD1,33 juta.

    "Masa pandemi ini menyadarkan kita semua untuk dapat memperkuat landasan ekonomi negara. Pemerintah, universitas, swasta, komunitas, dan rakyat (pentahelix) harus bersatu untuk memperbaiki grand design yang menimbulkan nilai tambah, utamanya pada sektor pertanian dan perikanan, demi tercapainya ketahanan pangan nasional yang solid," kata Rachmat, dalam zoom!nar "Potensi Industri Perikanan Pasca Pandemi, Siapkah Kita Bersaing?", Kamis, 14 Mei 2020.

    Dia mengatakan dalam menghadapi masa seperti ini, mau tidak mau masyarakat harus siap. Bahkan, masyarakat harus mampu menjadikan kesulitan yang dihadapi menjadi peluang.

    "Saran saya kepada Pemerintah adalah untuk dapat menyederhanakan birokrasi perizinan investasi, permudah akses pendanaan kepada nelayan yang mayoritas adalah pengusaha mikro serta kecil menegah, dan pemberdayaan koperasi yang maksimal," tegas Rachmat Gobel.

    Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP Nilanto Perbowo menambahkan sesungguhnya sektor perikanan tidak terlalu terimbas dahsyat seperti sektor ekonomi lainnya di masa pandemi ini.

    "Bersama aparat terkait, KKP terus menjaga kedaulatan wilayah laut Indonesia. Potensi perikanan Indonesia sangat berlimpah, nelayan kita harus menjadi tuan rumah di negaranya sendiri," kata Nilanto.

    Senada dengan Rachmat Gobel, pada masa pandemi ini, dirinya berharap pemerintah provinsi dapat turut aktif bemitra dengan Pemerintah Pusat untuk pengembangan dan pemanfaatan sektor perikanan.

    Selain itu Rektor IPB Arif Satria juga menekankan pentingnya Pemerintah untuk membantu akses pasar melalui penyediaan data terpadu berbasis blockchain.

    "Kendala logistik harus segera terpecahkan agar distribusi produk tidak tersendat. Penyerapan produk perikanan dan penyelesaian masalah logistik perlu mulai secara serius dilakukan dengan berbasis teknologi blockchain," imbau Satria.

    Di sisi lain, seorang pengusaha asal Yogyakarta Andri, menyerap kelebihan pasokan hasil laut membuat produk cumi tinta hitam dalam kemasan kaleng.

    "Dengan melimpahnya bahan baku saat ini, kesempatan dan peluang untuk pengolahan serta mencari nilai tambah di industri pangan baik pengusaha besar, kecil dan menengah, sangatlah memungkinkan jika sistem penyimpanan dan pendingin bisa diakses banyak pihak untuk memastikan bahan dan produk perikanan bertahan lama. Mas Andri adalah contoh nyata bagaimana seharusnya kita dapat menyikapi masa sulit ini menjadi kesempatan emas," tutup Nilanto.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id