Dampak Covid-19 Bisa Ganggu Agenda Pembangunan

    Husen Miftahudin - 12 Mei 2020 15:01 WIB
    Dampak Covid-19 Bisa Ganggu Agenda Pembangunan
    Dampak Covid-19 bisa ganggu agenda pembangunan. Foto: Dok.MI
    Jakarta: Pengamat ekonomi dari Indonesian Development of Economi and Finance (Indef) Dradjad Wibowo meminta pemerintah bersungguh-sungguh menanggulangi penyebaran covid-19. Sebab, pengaruh pandemi tersebut amat besar bagi laju pertumbuhan perekonomian nasional.

    "Wabah covid-19 ini bukan hanya terjadi di Indonesia dan Tiongkok, tapi juga di seluruh dunia. Semakin lama dan luas wabah covid-19 menular, semakin berdampak negatif bagi perekonomian nasional, semakin banyak pula orang yang kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian," ujar Dradjad dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2020.

    Menurutnya, dampak yang ada di depan akibat pandemi ini adalah menurunnya penerimaan keuangan negara. Hal ini akan mengganggu agenda pembangunan, belanja negara, serta belanja pegawai di samping banyaknya perusahaan swasta yang merumahkan karyawannya. Ujung-ujungnya, angka pengangguran makin meroket.

    "Karena itu pemerintah harus membuat stimulus perekonomian yang tepat. Sektor industri yang masih bagus dan beroperasi serta memberikan penghasilan keuangan dan menyerap tenaga kerja harus terus dioptimalkan dan dilindungi," tegasnya.

    Salah satu industri yang menyerap tenaga kerja banyak dan mampu menggerakkan ekonomi sektor riil adalah industri hasil tembakau. Sektor industri ini juga dinilai dapat memberikan pemasukan keuangan bagi negara lewat cukai dan pajak-pajak lainnya.

    Dalam rangka penyelamatan ekonomi, pemerintah harus menjunjung asas keadilan dengan tidak membeda-bedakan pemberian bantuan dan perlindungan demi menangkal covid-19. Jika pemerintah memberikan bantuan pada sektor industri lainnya, maka industri rokok perlu mendapat perlindungan dan perhatian pemerintah pula.

    "Saya rasa industri rokok akan terkena dampak negatif (covid-19) karena sangat padat karya. Jadi saya rasa untuk fair-nya, kalau industri lain itu dibantu, industri rokok juga dibantu. Jangan industri rokok ini dipukuli terus," ketus Dradjad.

    Di sisi lain, Indef pada beberapa waktu lalu telah membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi hingga dua persen untuk skenario wabah yang minimal. Bila skenario wabahnya lebih besar seperti di Italia, pertumbuhan ekonomi bisa mencapai angka minus.

    "Ini sudah terbukti dengan Tiongkok yang mengalami pertumbuhan minus. Jadi dampaknya akan sangat besar sekali," ucapnya.

    Lebih lanjut Ketua Dewan Pakar Pengurus Pusat Partai  Amanat Nasional (PAN) ini menyampaikan, jika pertumbuhan ekonomi RI minus hanya sesaat, maka efeknya tidak terlalu banyak. Hanya menyerang secara psikologis.

    "Tapi kalau minus pertumbuhan ekonominya dalam jangka panjang, satu hingga dua bulan akan membahayakan perekonomian nasional kita," tutup Dradjad.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id