comscore

Jokowi Optimistis Pabrik Hot Strip Mill 2 Bantu Hemat Devisa Rp29 Triliun

Antara - 21 September 2021 13:29 WIB
Jokowi Optimistis Pabrik <i>Hot Strip Mill</i> 2 Bantu Hemat Devisa Rp29 Triliun
Presiden Joko Widodo. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden.
Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengharapkan produksi baja dari pabrik baja lembaran panas atau Hot Strip Mill 2 milik PT Karakatau Steel Tbk (KS) dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri dan mengurangi impor baja sehingga akan menghemat devisa nasional hingga Rp29 triliun per tahun.

Presiden Jokowi dalam peresmian pabrik tersebut di Cilegon, Banten, mengatakan pabrik Hot Strip Mill 2 akan memproduksi Hot Rolled Coil atau baja gulungan hitam sebesar 1,5 juta ton per tahun. Selanjutnya, tingkat produksi pabrik bernilai Rp7,5 triliun itu akan terus ditingkatkan hingga dua juta ton per tahun.
"Dengan beroperasinya pabrik ini kita akan dapat memenuhi baja dalam negeri, jadi tak ada lagi impor-impor yang kita lakukan. Sehingga sekali lagi akan menekan angka impor baja negara kita yang saat ini berada pada peringkat kedua komoditas impor Indonesia, sehingga kita harapkan nanti dapat menghemat devisa Rp29 triliun per tahun, ini angka yang sangat besar sekali," kata Jokowi dilansir Antara, Selasa, 21 September 2021.

Pabrik baja lembaran panas itu, kata Jokowi, hanya ada dua di dunia, yang salah satunya berada di Indonesia, yang dimiliki oleh KS. Satu pabrik lainnya berada di Amerika Serikat. Baja gulungan hitam yang dihasilkan oleh pabrik ini pun merupakan produk kualitas premium.

"Menggunakan teknologi modern dan terbaru di industri baja, dan hanya ada dua di dunia, pertama di AS, dan yang kedua di Indonesia. Tadi saya sudah melihat ke dalam, proses produksinya betul-betul memang teknologi tinggi,” ujarnya.

Presiden berpesan agar produk yang dihasilkan pabrik ini tak kalah dengan produk baja impor.

"Saya yakin akan menjadi komoditas yang mampu bersaing di pasar regional dan global," imbuhnya.

Saat ini, peningkatan produksi baja sangat dibutuhkan Indonesia karena tingkat konsumsi baja meningkat hingga 40 persen dalam lima tahun terakhir. Maka dari itu, produksi baja oleh industri dalam negeri harus ditingkatkan agar mencegah melonjaknya permintaan untuk impor.

"Karena konsumsi baja kita sangat besar, kalau kita tau konsumsi baja sangat besar, jangan dibiarkan ini dimasuki produk-produk dari luar," pungkasnya.

(DEV)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id