Satu Tahun Kerja, Menperin Fokus Hilirisasi Industri

    Ilham wibowo - 27 Oktober 2020 11:22 WIB
    Satu Tahun Kerja, Menperin Fokus Hilirisasi Industri
    Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita - - Foto: dok Kemenperin
    Jakarta: Memasuki satu tahun kinerja Kabinet Indonesia Maju, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) fokus menggulirkan kebijakan strategis dalam meningkatkan hilirisasi industri. Kebijakan itu memberikan efek positif terhadap penerimaan devisa hasil ekspor dan penyerapan tenaga kerja.

    "Kami bertekad mengoptimalkan terhadap peningkatan nilai tambah bahan baku dalam negeri, supaya dimanfaatkan sebanyak-banyaknya di Indonesia dan bisa dinikmati oleh masyarakat," kata Agus melalui keterangan tertulis, Selasa, 27 Oktober 2020.

    Menurut Agus hilirisasi industri dapat menjaga kekuatan perekonomian nasional agar tidak mudah terombang-ambing di tengah fluktuasi harga komoditas. Meski demikian, sektor industri pengolahan di dalam negeri masih perlu dipacu agar tumbuh dan berkembang.

    "Karena berperan penting meningkatkan nilai ekonomi dari sumber daya alam kita untuk dibuat sebagai barang setengah jadi hingga produk jadi," ujarnya.


    Agus menambahkan hilirisasi tersebut perlu ditopang dengan penggunaan teknologi baru demi menggenjot produktivitas secara lebih efisien. Contohnya di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah, sudah berhasil melakukan hilirisasi terhadap nickel ore yang dihargai USD40-USD60 menjadi stainless steel sebagai produk turunan seharga USD2.000.

    Kawasan Industri Morowali juga sudah mampu meraih nilai ekspor yang tembus USD4 miliar, baik itu pengapalan produk hot rolled coil maupun cold rolled coil ke Amerika Serikat dan Tiongkok. Kontribusi kawasan industri ini juga diperlihatkan dari capaian investasi yang signifikan, yaitu lebih dari USD5 miliar dan jumlah penyerapan tenaga kerja melampaui 30 ribu orang.

    Kemajuan lainnya pada penerapan hilirisasi industri, yakni ekspor dari olahan sawit yang didominasi produk hilir cenderung meningkat dalam kurun lima tahun terakhir. Rasio volume ekspor bahan baku dan produk hilir kini sebesar 19 persen banding 81 persen.

    Apalagi, Indonesia merupakan produsen terbesar minyak sawit mentah (CPO) dan minyak kernel sawit mentah (CPKO) dengan produksi sebesar 47 juta ton. Laju pertumbuhan produksi minyak sawit pun diperkirakan bisa terus meningkat signifikan.

    "Sementara itu, ekspor minyak sawit dan produk turunannya telah menyumbang devisa negara hingga USD22 miliar per tahun," pungkasnya.  


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id