Kenaikan Indeks Manufaktur Global dan Nasional Bukti Perbaikan Bisnis

    Antara - 04 Mei 2021 19:19 WIB
    Kenaikan Indeks Manufaktur Global dan Nasional Bukti Perbaikan Bisnis
    Ilustrasi perbaikan ekonomi dunia - - Foto: dok MI



    Jakarta: Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Febrio Kacaribu menyebut Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur global yang tercatat sebesar 55,8 dan Indonesia 54,6 pada April 2021 mencerminkan perbaikan pada kondisi bisnis dalam dan luar negeri.

    "Angka PMI tersebut mencerminkan perbaikan nyata pada kondisi bisnis, seiring dengan lonjakan permintaan baru dan kembalinya bisnis baru dari luar negeri," kata dia dalam keterangan resminya, Selasa, 4 Mei 2021.
     
    Ia menjelaskan PMI Global meningkat didorong oleh pertumbuhan di sisi new orders, new export business, dan employment dengan Eropa dan AS yang mencatatkan kinerja manufaktur sangat kuat. Ini didorong pertumbuhan pesanan baru seiring kenaikan permintaan.






    PMI manufaktur AS sebesar 60,5 mencatatkan angka tertinggi sejak Mei 2007 sedangkan manufaktur negara lain di benua Amerika seperti Kanada 57,2 dan Brasil 52,3 masih berada dalam tren ekspansif, meski turun dibandingkan bulan sebelumnya.

    Untuk Tiongkok 51,9, Jepang 53,6, dan India 55,5 juga berhasil mempertahankan tren positif didukung pertumbuhan pada tingkat permintaan.

    Dari sisi regional, ASEAN menunjukkan performa manufaktur yang bervariasi yaitu Indonesia dan Malaysia 53,9 berada pada zona ekspansif, tetapi Filipina 49,0 kembali ke zona kontraksi akibat eskalasi covid-19 yang memicu pengetatan restriksi.

    Secara global, efek gangguan supply chain masih dirasakan yaitu tekanan inflasi atas bahan baku masih tinggi dan menambah beban biaya produksi.

    "Namun tingginya optimisme bisnis di tengah percepatan vaksinasi diharapkan mempercepat pengendalian pandemi serta mendongkrak pemulihan permintaan global," terang dia.

    Sementara PMI Manufaktur Indonesia yang tercatat pada angka 54,6 pada April 2021 menunjukkan terjadinya ekspansi selama enam bulan berturut-turut yaitu adanya kenaikan output, permintaan baru, pembelian, serta permintaan ekspor yang kembali tumbuh.

    Menurut Febrio, dengan bisnis baru yang mengalami ekspansi tajam maka perusahaan manufaktur juga menaikkan volume produksi sehingga diharapkan dapat meningkatkan tenaga kerja baru secara umum.

    Di sisi lain, volume produksi yang semakin tinggi menimbulkan permintaan input yang lebih tinggi maka dengan pasokan yang relatif terbatas akan menyebabkan peningkatan harga input yang berpengaruh pada harga jual kepada konsumen selama enam bulan terakhir.

    Meski demikian Febrio mengatakan produsen di Indonesia masih sangat optimistis produksi akan terus menguat didorong adanya harapan pandemi akan berakhir pada tahun mendatang.

    "Pemerintah perlu menjaga momentum pemulihan dengan tetap menjaga daya beli masyarakat dan berkomitmen untuk melanjutkan dukungan terhadap pelaku usaha," tegasnya.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id