PMN Rp22 Triliun untuk BPUI Gunakan Skema Bail In

    Annisa ayu artanti - 05 Oktober 2020 11:34 WIB
    PMN Rp22 Triliun untuk BPUI Gunakan Skema <i>Bail In</i>
    Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Arya Sinulingga. Foto : Medcom.
    Jakarta: Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Arya Sinulingga memastikan Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai Rp22 triliun yang bakal diberikan kepada PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) atau BPUI menggunakan skema bail in.

    Arya menegaskan pemberian PMN dengan skema tersebut dilakukan karena 100 persen saham BPUI dimiliki oleh negara. Pemerintah sebagai pemegang saham berhak menyelesaikan masalah Jiwasraya.

    "Pemegang saham memiliki kewajiban untuk menyelesaikan masalah Jiwasraya dengan cara bail in, bukan bail out. Ini karena skema bail out itu menginjeksi modal ke perusahaan swasta. Sedangkan BPUI itu 100 persen punya pemerintah, negara," kata Arya di Jakarta, Minggu, 4 Oktober 2020.

    Sebelumnya dalam rapat Panitia Kerja (Panja) Komisi VI DPR RI diputuskan bahwa untuk penyelesaian masalah Jiwasraya melalui pemberian Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai Rp22 triliun kepada BPUI untuk mendirikan perusahaan asuransi baru bernama IFG Life.

    Dana PMN senilai Rp 22 triliun akan digunakan IFG Life untuk menjalankan bisnisnya di sektor asuransi yang menyasar produk-produk asuransi kesehatan, jiwa, dan pengelolaan dana pensiun.

    Adapun polis Jiwasraya yang sudah direstrukturisasi nantinya akan dipindahkan dari Jiwasraya ke IFG Life melalui proses bisnis.

    Arya menambahkan pemberian PMN dengan skema bail in ke BPUI juga bertujuan untuk membangun kembali kepercayaan para pemegang polis asuransi.

    Arya juga memastikan bersamaan dengan upaya penyelamatan polis Jiwasraya dan pendirian IFG Life, pemerintah melalui Kejaksaan Agung terus menjalankan proses hukum. Saat ini terdakwa kasus dugaan korupsi Jiwasraya telah dituntut seumur hidup dan dilakukan penyitaan aset yang mencapai Rp18,4 triliun.

    "Dengan adanya bail in kepada BPUI, pemegang polis Jiwasraya tetap dapat menerima sebagian besar dari haknya yang sejak 2018 mereka sudah tidak menerima haknya. Opsi penyelamatan polis ini jauh lebih baik dibandingkan opsi likuidasi Jiwasraya," imbuhnya.

    Di kesempatan yang sama, Direktur Utama BPUI Robertus Bilitea menargetkan pendirian IFG Life bisa dilakukan pada Desember 2020.

    "IFG life akan going concern dan diharapkan menjadi perusahaan yang sehat, menguntungkan, serta memberikan layanan asuransi yang lengkap, bukan hanya kepada nasabah eks Jiwasraya melainkan juga kepada masyarakat umum," ujar Robertus.


    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id