Erick Thohir Bela Dirut Inalum

    Suci Sedya Utami - 02 Juli 2020 23:46 WIB
    Erick Thohir Bela Dirut Inalum
    Menteri BUMN Erick Thohir. Foto: Medcom.id/Suci Sedya Utami.
    Jakarta: Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir membela Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) Orias Petrus Moedak yang dicecar hingga diancam diusir oleh anggota dewan terkait dengan penerbitan obligasi serta pembelian saham PT Freeport Indonesia (PTFI).

    Erick mengatakan dirinya mempercayai Orias dan langkah-langkah yang dilakukan oleh pria asal NTT itu dalam mengelola Inalum usai mengambil alih saham mayoritas Freeport, menyusul juga PT Vale Indonesia (PTVI).

    "Saya percaya pada Dirut Inalum yang sekarang, apalagi sudah punya Freeport dan Vale," kata Erick dalam webinar, Kamis, 2 Juli 2020.

    Erick pun mewanti-wanti pada Orias bahwa yang terpenting saat mengambil alih Freeport bukan hanya simbolis merah putih karena berhasil memiliki 51 persen. Namun yang terpenting usai mengambil alih yakni melakukan benchmarking dari mulai cost structure serta human capital. Kemudian menerapkan teknologi dalam meningkatkan produksi dan memperluas pasar.

    "Jadi saya enggak mau pengambilalihan Freeport itu cuma merah putih saja, inilah kemarin yang saya bilang ke Pak Orias yang lagi populer di berita," ujar Erick.

    Baca: Gali Lubang Tutup Lubang, Legislator Cecar Inalum

    Sebelumnya, Rapat Dengar Pendapat antara Komisi DPR dan Inalum sembat dibumbui cekcok antara Orias dan Anggota Komisi VII DPR Fraksi Demokrat M Nasir.

    Dalam rapat tersebut Orias menjelaskan mengenai aksi perusahaan yang baru saja menerbitkan kembali obligasi senilai USD2,5 miliar. Obligasi tersebut salah satunya digunakan untuk membayar utang jatuh tempo dengan tenor tiga dan lima tahun yang dilakukan Inalum untuk membeli Freeport.

    Pada saat membeli Freeport, Inalum mesti merogoh USD3,85 miliar ketika membeli Freeport. Anggaran untuk membeli saham perusahaan tambang tersebut berasal dari penerbitan utang sebesar USD4 miliar dengan tenor 3, 5, 10, dan 30 tahun. Untuk tenor tiga dan lima tahun akan jatuh tempo di 2021 dan 2023.

    "Jadi kami segera masuk ke pasar kemarin untuk melakukan refinancing dari yang akan jatuh tempo 2021 dan 2023. Kami terbitkan USD2,5 miliar. USD1 milar kami pakai untuk bayar setengah utang jatuh tempo 2021 dan utang 2023," kata Orias.

    Menanggapi penerbitan obligasi lanjutan itu, Nasir angkat bicara.

    Baca: DPR Usir Dirut Inalum, Analis: Ada Salah Paham Konsep Pasar Modal

    Menurutnya langkah gali lubang tutup lubang dengan utang merupakan cara yang salah. Sebab, utang sebelumnya yang belum lunas tapi perusahaan kembali menambah utang.

    "Ini pekerjaan konyol sebenarnya. Ini bapak cerita soal utang lagi, utang yang lama saja ribet kita hitungnya, eh ini utang lagi, yang mau bayar siapa? Kan gila ini jadinya," kata Nasir.

    Nasir menyebut jika Inalum tidak mampu membayar utang, tiga anak usaha di bawahnya berpotensi digadaikan. Ia pun tidak puas dengan semua penjelasan, dan mengancam Dirut Inalum serta berniat melaporkannya ke Menteri BUMN Erick Thohir agar memberhentikan Orias.

    "Kalau bapak sekali lagi begini, saya suruh bapak keluar ruangan (ruang rapat DPR Komisi VII) ini," ancam Nasir.

    Ancaman tersebut pun disambut oleh Orias dengan mengatakan jika pimpinan menghendaki dirinya keluar ruangan, maka ia bersedia meninggalkan ruangan. Sebab dirinya hanya memenuhi undangan Komisi VII untuk mengadakan rapat. Orias merupakan sosok Direktur Inalum pertama yang berani menyuarakan suara lantang saat dicecar DPR.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id