comscore

Investor AS: Jangan Bersaing dengan Vietnam, Skala Indonesia Berbeda

Desi Angriani - 14 Desember 2021 15:03 WIB
Investor AS: Jangan Bersaing dengan Vietnam, Skala Indonesia Berbeda
Ilustrasi. Foto: Medcom.id
Jakarta: Investor Amerika Serikat (AS) menilai skala perekonomian Indonesia dan Vietnam jauh berbeda. Sebagai negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara, Indonesia tak sepatutnya bersaing dengan Vietnam.

"Indonesia tidak harus bersaing dengan Vietnam karena skala Anda berbeda, Indonesia merupakan negara besar dengan pertumbuhan ekonomi yang positif," ujar Senior Vice President, Global Initiatives at The U.S. Chamber of Commerce Gary Litman dalam 9th US-Indonesia Investment Summit secara virtual, Selasa, 14 Desember 2021.

 



Gary menjelaskan Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah pertemuan G20 lantaran potensi ekonomi dan fasilitas infrastruktur yang menunjang. Bahkan penyelenggaraan Presidensi G20 sherpa meeting dan finance track yang digelar kemarin mendapat catatan positif dari banyak negara, baik dari sisi protokol kesehatan maupun substansi acara.

Kiprah Indonesia di kancah internasional tersebut, lanjutnya, tak sebanding dengan Vietnam. Karena itu, ia meminta Indonesia tak perlu cemburu dengan keuntungan ekspor yang diraih Vietnam dari perang dagang antara AS dan Tiongkok.

"Anda juga menjadi pemimpin G20 karena besarnya negara Anda dan kita bisa bekerja sama meningkatkan ekonomi di kawasan ini," terang dia.

Gary pun berharap Indonesia dapat memanfaatkan momentum Presidensi G20 untuk meningkatkan kerja sama bisnis dengan banyak negara, khususnya menarik minat investor global.

"G20 menjadi kesempatan terbaik Anda dalam memimpin global dan meningkatkan ketertarikan perusahaan asing atau investor global," pungkas dia.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengungkapkan selama konflik dagang tersebut, Tiongkok merelokasi sebanyak lima perusahaan yang berada di AS ke Vietnam. Hal ini memberikan keuntungan ekspor sebesar 30 persen bagi Vietnam.

Sementara Indonesia hanya membukukan keuntungan dari sisi ekspor di bawah satu persen. Namun, setelah pandemi merebak pada Maret 2020 lalu, ekspor Indonesia ke AS mulai tumbuh signifikan hingga 17 persen imbas permintaan produk makanan dan logam dasar.

"Kenaikan permintaan dua produk tersebut karena tingginya harga komoditas global," ungkap Shinta.

(DEV)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id