comscore

Meski Transisi Energi, Ruang Industri Migas untuk Tumbuh Masih Terbuka

Annisa ayu artanti - 17 Juni 2022 15:49 WIB
Meski Transisi Energi, Ruang Industri Migas untuk Tumbuh Masih Terbuka
Ilustrasi. Foto: dok MI.
Jakarta: Industri hulu migas dinilai masih sangat penting untuk memenuhi kebutuhan energi Indonesia, meskipun transisi energi hijau tengah dilakukan. Energi fosil juga masih dianggap mampu untuk terus menggerakkan perekonomian nasional.

Sekretaris SKK Migas Dr Taslim Z Yunus mengungkapkan dalam outlook kebutuhan energi Indonesia menunjukkan masih ada ruang bagi industri migas untuk terus tumbuh. Apalagi pemerintah telah memberikan beberapa insentif kepada beberapa Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).
"Target kami pada 2030 produksi minyak mencapai satu juta BOPD dan gas 12 BScf," katanya, dikutip Jumat, 17 Juni 2022.

Ia menjelaskan, upaya pemerintah untuk mencapai target produksi tersebut salah satunya dilakukan melalui pemberian paket insentif hulu migas yang meliputi penundaan sementara pencadangan biaya kegiatan pascaoperasi atau abandonment and site restoration (ASR), penundaan atau penghapusan PPN LNG (penyerahan barang kena pajak tertentu yang bersifat strategis yang dibebaskan dari pengenaan PPN), dan pembebasan biaya pemanfaatan Barang Milik Negara (BNN) sepanjang masih digunakan untuk kegiatan usaha hulu migas.

Selain itu, pemerintah memberikan insentif berupa penundaan atau pengurangan hingga 100 persen atas pajak-pajak tidak langsung, memberikan insentif hulu migas, di antaranya depresiasi dipercepat, perbaikan split untuk KKKS, dan DMO price yang lebih baik, dan gas dapat dijual dengan harga market untuk semua skema di atas Take or Pay dan DCQ.

Selanjutnya, pemerintah juga menghapuskan biaya pemanfaatan kilang LNG Badak USD0,22 per MMBTU, pembebasan branch profit tax apabila reinvestasi profit (dividen) ke Indonesia, dan dukungan dari Kementerian yang membina industri pendukung hulu migas (baja, rig, jasa dan service) bagi industri penunjang kegiatan hulu migas.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Reforminer Institute Dr Komaidi Notonegoro menyatakan, semua pihak sudah sepakat industri hulu migas masih sangat penting dan kini tinggal bagaimana mengelolanya secara bijaksana.

Menurutnya, Indonesia harus belajar dari beberapa negara seperti Brasil, Australia, dan Kanada yang memberikan insentif kepada operator sehingga produksi migas di ketiga negara tersebut ikut meningkat. Hal ini pada gilirannya juga meningkatkan penerimaan negara dari sektor tersebut.

Berdasarkan kajian yang dilakukan Reforminer memperlihatkan dari 185 sektor industri di Indonesia, sekitar 145 sektor atau 70-80 persen, memiliki keterkaitan dengan sektor hulu migas.

"Index multiplier effect mencapai 39. Jadi setiap investasi migas memberikan dampak 3,9 kali dalam perekonomian kita," ucapnya.

Menurut Komaidi, sektor hulu migas masih berperan penting bagi perekonomian nasional kendati ada transisi energi melalui pengembangan energi baru dan terbarukan. Apalagi, banyak produk derivatif yang dihasilkan dari minyak dan gas.

"Kalau mau melangkah ke transisi energi tentu banyak hal-hal detail perlu bijak dalam melihatnya," ujarnya.

(AHL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id