Bangun Industri Mobil Listrik, Indonesia Perlu Belajar dari AS dan Norwegia

    Antara - 23 Februari 2021 18:03 WIB
    Bangun Industri Mobil Listrik, Indonesia Perlu Belajar dari AS dan Norwegia
    Ilustrasi penggunaan mobil listrik di luar negeri - - Foto: dok AFP


    Jakarta: Pemerintah berencana membangun industri mobil listrik kelas wahid di Asia Tenggara. Untuk mewujudkannya, Indonesia perlu belajar dari tiga negara, yakni Norwegia, Amerika Serikat (AS), dan Tiongkok.

    Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan ketiga negara tersebut memiliki tingkat adopsi kendaraan listrik yang tinggi.


    "Tiongkok dan AS mencatatkan penjualan kendaraan listrik tertinggi, sementara Norwegia penjualan kendaraan listriknya pada 2020 mencapai 54,3 persen," katanya dalam sebuah webinar, Selasa, 23 Februari 2021.

    Fabby menuturkan dalam satu dekade terakhir, secara global kendaraan listrik mengalami kenaikan pesat. Penjualan EV pada 2011 tercatat hanya 0,1 persen dari total pangsa pasar yang ada. Pada 2020, penjualan EV meningkat menjadi 4,4 persen dari total pangsa pasar dengan jumlah 3,2 juta unit kendaraan listrik yang dijual sepanjang 2020.

    "Yang menarik di Norwegia, pada 2020 penjualan EV di sana mencapai 54,3 persen dari hanya satu persen pada 2011. Kenaikan ini juga buah konsistensi pemerintah Norwegia menerapkan kebijakan untuk mendorong penetrasi kendaraan listrik," tuturnya.

    Kendati penjualan kendaraan listrik global mengalami peningkatan, Periset Teknologi Energi dan Kendaraan Listrik IESR Idoan Marciano menjelaskan penetrasi kendaraan listrik di Indonesia masih jauh dari target.

    Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Perindustrian, telah menetapkan sejumlah target adopsi kendaraan listrik di Indonesia. IESR mencatat, hingga 2020 baru ada 229 unit mobil listrik dari target di tahun yang sama sebanyak 150 ribu unit; 1.947 unit motor listrik dari target 750 ribu unit; 27 unit pengisian daya dari target 6.316 unit; dan 9 unit stasiun penukaran baterai dari target 180 unit.

    "Bila kecepatan adopsi ini tidak meningkat, dan akan sama maka target yang ditetapkan untuk tahun berikutnya yaitu pada 2025 dan 2030 tidak akan tercapai," ujarnya.

    Idoan mengungkapkan tingkat adopsi kendaraan yang rendah ternyata berkaitan erat dengan pengembangan ekosistem kendaraan listrik di dalam negeri yang baru saja dimulai.

    "Kalau dibandingkan tiga negara pembanding (AS, Tiongkok dan Norwegia) yang sudah membangun ekosistem, ada kesenjangan antara Indonesia dengan tiga negara tersebut dalam aspek ekosistem," tambahnya.

    Aspek ekosistem kendaraan listrik yang dimaksud mencakup kebijakan, infrastruktur pengisian daya, industri/rantai pasok, kesadaran masyarakat serta pasokan dan ketersediaan model.

    Meski Indonesia memberikan fasilitas insentif fiskal, tapi total insentif yang diberikan masih kalah dibanding Tiongkok, AS dan Norwegia.

    "Total insentif yang diberikan pemerintah hanya mengurangi 40 persen dari harga awal kendaraan listrik yang masuk ke Indonesia," pungkas dia.


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id