Adopsi Teknologi Penting Bagi Pemulihan Bisnis di Tengah Pandemi

    Husen Miftahudin - 27 April 2021 22:18 WIB
    Adopsi Teknologi Penting Bagi Pemulihan Bisnis di Tengah Pandemi
    Ilustrasi. Foto: AFP



    Jakarta: Setahun terakhir, pelaku industri fokus menyiasati krisis pandemi dengan menerapkan budaya kerja remote working. Menurut riset World Economic Forum (Oktober 2020), sebanyak 91,7 persen perusahaan di Indonesia telah menerapkan kebijakan ini, dan 58,3 persen di antaranya menyatakan penerapan otomasi pekerjaannya meningkat.

    "Korporasi di berbagai industri seperti manufaktur, logistik, konstruksi, serta industri olahan sumber daya alam, perlu melakukan transformasi digital dengan beralih ke ERP agar perusahaan bisa beradaptasi dengan dinamika bisnis belakangan ini yang harus bisa mendukung remote working dan otomasi untuk meningkatkan efisiensi," ucap CEO PT Zahir Internasional Muhamad Ismail dalam siaran persnya, Selasa, 27 April 2021.






    Ismail lantas membeberkan empat fondasi budaya kerja new normal yang harus diperhatikan manajemen atau decision makers, riset dari McKinsey (2020). Di antaranya people (sumber daya manusia), structure (struktur), process (proses), dan technology (teknologi).

    Pertama, people, terkait dengan dampak psikologis karyawan secara personal. Perusahaan perlu menciptakan suasana komunikasi yang efektif selama bekerja tanpa bertatap muka, dan memberikan fleksibilitas bagi karyawan.

    "Karyawan bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dan terhindar dari segala hambatan, salah satunya dengan dukungan sistem operasional yang memiliki fitur yang dibutuhkan," urainya.

    Kedua, structure, terkait pemahaman karyawan terhadap goals perusahaan. Perusahaan perlu memastikan, karyawan paham dengan target dan orientasi bisnis saat ini, termasuk jika menghadapi situasi kondisi krisis dan dibutuhkan alur yang jelas untuk prosedur reporting.

    Untuk itu, sistem ERP yang dibutuhkan oleh para decision makers mulai dari fungsi monitoring secara optimal, mengetahui status dan proses secara real time, sehingga mereka memiliki dasar dalam proses pengambilan keputusan yang objektif dan relevan.

    Ketiga, process, yaitu prioritas tugas dan tanggung jawab yang seringkali double job. Perusahaan perlu menetapkan batasan-batasan tugas yang jelas, baik antara individu maupun tim. Tantangan yang dihadapi perusahaan besar yang masih menggunakan metode konvensional biasanya tidak saling terhubung antar aktivitas bisnis.

    "Misalnya, bagian gudang harus menunggu data dari bagian produksi untuk mengatur stok barang. Sistem ERP memangkas proses-proses seperti ini karena adanya transparansi data yang bisa langsung diakses dengan teknologi API (Application Programming Interface)," ungkap dia.

    Keempat, technology, yaitu infrastruktur teknologi mulai dari hardware, software, sampai skill karyawan untuk menggunakan teknologi tersebut. Ismail pun mengingatkan perusahaan untuk mengevaluasi proses bisnis secara berkala agar mengetahui kapan saatnya membutuhkan peningkatan sistem, mulai dari alur produksi, operasional, rantai pasok, keuangan, gudang, penjualan, sampai human resources management dan customer relationship management.

    "Selanjutnya, mengidentifikasi tipe pekerjaan yang bisa diotomasi dan diolah dengan sistem, lalu kalkulasikan cost dan benefitnya. Riset McKinsey mencatat, tiga teratas pekerjaan di Indonesia yang berpotensi diganti dengan otomasi yaitu akuntansi dan pembukuan, penginput data (data entry clerks), dan pencatatan gudang (stock-keeping clerks)," tutup Ismail.
     

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id