Antivirus Eucalyptus Peroleh Hak Paten

    Ilham wibowo - 04 Juli 2020 18:30 WIB
    Antivirus <i>Eucalyptus</i> Peroleh Hak Paten
    Penemuan antivirus berbasis eucalyptus - - Foto: dok Kementan
    Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementan berhasil mendapatkan hak paten dari penemuan antivirus berbasis eucalyptus. Hal ini seiring dengan rencana produksi massal antivirus covid-19 tersebut dalam waktu dekat.

    Kepala Badan Litbang Pertanian Fadjry Djufry mengatakan pihaknya berkolaborasi dengan PT Eagle Indo Pharma (Cap Lang) untuk melakukan produksi massal antivirus tersebut. Penandatanganan perjanjian Lisensi Formula Antivirus Berbasis Minyak Eucalyptus ini dilaksanakan di Bogor pada pertengahan Mei lalu.

    “Para peneliti di Balitbangtan ini juga bagian dari anak bangsa, mereka berupaya keras menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk bangsanya, semoga hal ini mampu menjadi penemuan baik yang berguna bagi kita semua," kata Fadjry melalui keterangan tertulisnya, Sabtu, 4 Juli 2020.

    Ia mengklaim bahwa eucalyptus dikenal mampu bekerja melegakan saluran pernapasan, menghilangkan lendir, pengusir serangga, disinfektan luka, penghilang nyeri, mengurangi mual, dan mencegah penyakit mulut. Minyak atsiri eucalyptus citriodora itu bisa menjadi antivirus terhadap virus avian influenza (flu burung) subtipe H5N1, gamma corona virus, dan betacoronavirus.

    Penemuan tersebut disimpulkan melalui uji molecular docking dan uji in vitro di Laboratorium Balitbangtan. Ia menjelaskan laboratorium tempat penelitian eucalyptus telah mengantongi sertifikat level keselamatan biologi atau biosafety level 3 (BSL 3) milik Balai Besar Penelitian Veteriner.

    Virologi Kementan pun sudah melakukan penelitian sejak 10 tahun lalu dan tak asing dalam menguji golongan virus corona seperti influenza, beta corona dan gamma corona.


    "Setelah kita uji ternyata eucalyptus sp. yang kita uji bisa membunuh 80-100 persen virus mulai dari avian influenza hingga virus korona. Setelah hasilnya kita lihat bagus, kita lanjutkan ke penggunaan nanoteknologi agar kualitas hasil produknya lebih bagus” bebernya.

    Dalam berbagai studi dikatakan bahwa obat ini hanya cukup 5-15 menit diinhalasi akan efektif bekerja sampai ke alveolus. Artinya dengan konsentrasi satu persen saja sudah cukup membunuh virus 80-100 persen.

    Bahan aktif utamanya terdapat pada cineol-1,8 yang memiliki manfaat sebagai antimikroba dan antivirus melalui mekanisme M pro. M pro adalah main protease (3CLPro) dari virus corona yang menjadi target potensial dalam penghambatan replikasi virus korona.

    Penelitian pun menunjukkan eucalyptol ini berpotensi mengikat protein Mpro sehingga menghambat replikasi virus. Manfaat tersebut dapat terjadi karena 1,8 cineol dari eucalyptus disebut eucalyptol dapat berinteraksi dengan transient receptor potential ion chanel yang terletak di saluran pernapasan.

    "Ini bukan obat oral, ini bukan vaksin, tapi kita sudah lakukan uji efektivitas, secara laboratorium secara ilmiah kita bisa buktikan. Paling tidak ini bagian dari upaya kita, minyak eucalyptus ini juga sudah turun menurun digunakan orang dan sampai sekarang tidak ada masalah," pungkasnya.


    (Des)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id