Kementan Tegaskan tak Impor Babi dari Tiongkok

    Antara - 07 Juli 2020 13:06 WIB
    Kementan Tegaskan tak Impor Babi dari Tiongkok
    Ilustrasi. Foto : AFP.
    Jakarta: Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Karantina Pertanian (BKP) menegaskan saat ini tidak ada impor hewan babi dari Tiongkok. Seiring dengan temuan virus baru flu babi (swine flu) G4 EA H1N1 yang berpotensi menjadi pandemi baru.

    Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani Kementan Agus Sunanto menjelaskan bahwa importasi hewan babi dilakukan dari Kanada dan Amerika Serikat. Namun, importasi itu pun hanya untuk pengadaan bibit sesuai dengan kebijakan yang dikeluarkan dari Kementerian Pertanian.

    "Kalau hewan babi itu tidak ada dari Tiongkok, kita impor babi dari Kanada dan AS, itu pun tidak rutin hanya terkait pengadaan bibit saja, mungkin tahun depan atau ketika ada kebijakan dari Kementerian Pertanian. Tapi sekarang ini belum ada (impor)," kata Agus saat dihubungi Antara, Selasa, 7 Juli 2020.

    Agus menjelaskan bahwa impor bibit babi dari Kanada dan AS tidak dilakukan secara rutin. Kebijakan pengadaan bibit tersebut dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian untuk perbaikan genetika dan penambahan populasi babi. Namun demikian, saat ini Indonesia justru rutin melakukan ekspor hewan babi ke Singapura. Setidaknya, 1.000 ekor babi diekspor setiap harinya ke Singapura.

    Terkait dengan virus flu babi tipe baru yang disebut berpotensi memicu pandemi baru, Agus menjelaskan telah meningkatkan pengawasan lalu lintas hewan dan produk hewan. Adapun virus yang dinamakan reassortant Eurasian avian-like (EA) H1N1 genotype 4 (G4) atau virus flu babi G4 ini dilansir melalui publikasi ilmiah Amerika Serikat PNAS (29/6).

    "Kalau penyakit ini lalu lintasnya barang dari material babi. Kalau lalu lintas babi hidup, biasanya lewat pelabuhan internasional, untuk produk babi bisa pelabuhan bisa bandara tergantung jumlahnya," ungkap dia.

    Agus menambahkan bahwa pengawasan terhadap produk babi telah dilakukan sejak merebaknya kasus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika pada tahun lalu di Tiongkok.

    Peningkatan pengawasan juga telah dilakukan terhadap kedatangan turis Tiongkok ke Indonesia sejak kasus ASF merebak. Namun, dengan adanya penutupan penerbangan internasional dari Tiongkok selama pandemi covid-19, lalu lintas produk babi yang dibawa oleh turis Tiongkok juga menurun risikonya.

    "Sejak kasus ASF, kita sudah siap karena setiap penumpang dari Tiongkok di Bandara yang membawa produk babi, pasti kita tahan, kita uji, kemudian kita musnahkan. Namun dengan adanya penutupan karena covid-19, ini sedikit menurunkan risiko penyebaran," kata Agus.




    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id