Ekspor Agustus 2020 Merosot Jadi USD13,07 Miliar

    Husen Miftahudin - 15 September 2020 13:10 WIB
    Ekspor Agustus 2020 Merosot Jadi USD13,07 Miliar
    Ekspor. Foto : MI/Ramdani.
    Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total ekspor Indonesia pada Agustus 2020 sebesar USD13,07 miliar. Jumlah ekspor tersebut mengalami penurunan sebesar 4,62 persen bila dibandingkan realisasi ekspor pada bulan sebelumnya yang mencapai sebanyak USD13,70 miliar.

    "Ekspor yang turun terjadi pada kedua komoditas. Untuk migasnya mengalami penurunan 9,94 persen, sementara untuk nonmigasnya mengalami penurunan 4,35 persen," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam video telekonferensi pers di Jakarta, Rabu, 15 September 2020.

    Sementara secara year on year (yoy), nilai ekspor RI juga mengalami penurunan sebesar 8,36 persen, dari USD14,26 miliar pada Agustus 2019 menjadi USD13,07 miliar di Agustus 2020. Penurunan ini terjadi karena adanya penurunan pada ekspor migas sebesar 7,16 persen dan nonmigas anjlok 27,45 persen.

    "Jadi sesudah dua kali ekspor kita mengalami kenaikan pada Juni dan Juli, pada Agustus ini ekspor kita agak melandai. Turun 4,62 persen dibandingkan posisi Juli. Kalau kita bandingkan dengan posisi sebelumnya, Agustus 2020 ini masih di bawah posisi Agustus 2018 maupun 2019," paparnya.

    Menurut sektornya, jelas Suhariyanto, seluruh ekspor mengalami penurunan. Sektor migas yang pada Agustus 2020 meraup total ekspor sebanyak USD0,61 miliar, turun sebesar 9,94 persen (mtm) dan anjlok sebanyak 27,45 persen (yoy).

    Sektor pertanian pada Agustus 2020 ini meraup total ekspor sebesar USD0,34 miliar, turun sebesar 2,37 persen (mtm) dan naik 1,04 persen (yoy). Penurunan ekspor secara bulanan ini terjadi karena anjloknya beberapa ekspor pertanian seperti tanaman obat, aromatik, dan rempah-rempah.

    "Ekspor tembakau kita juga mengalami penurunan, ekspor kopi, mutiara hasil budidaya, dan juga ekspor kepiting. Itu yang menyebabkan ekspor pertanian mengalami pertumbuhan ekspor negatif 2,37 persen (mtm)," ungkap Suhariyanto.

    Sektor industri pengolahan sebesar USD10,73 miliar mengalami penurunan 4,91 persen (mtm) dan minus 4,52 persen (yoy). Beberapa komoditas yang mengalami penurunan ekspor cukup dalam pada sektor ini adalah logam dasar mulia, minyak kelapa sawit, sepatu olahraga, dan kimia dasar organik yang bersumber dari minyak.

    Sedangkan ekspor pertambangan dan penggalian sebesar USD1,39 miliar turun 0,28 persen (mtm) dan minus 24,78 persen (yoy). Anjloknya ekspor pertambangan dan penggalian secara mtm ini dipengaruhi oleh beberapa komoditas seperti batu bara, lignit, dan juga bijih besi.

    "Pada Agustus 2020 ini struktur ekspor kita 95 persen masih didominasi oleh nonmigas dengan catatan share dari ekspor industri pengolahan adalah 82,1 persen," ucap Suhariyanto.

    Berdasarkan golongan barang utama HS dua digit, komoditas yang mengalami peningkatan terbesar adalah bijih, terak, dan abu logam (HS 26). Diikuti barang dari besi dan baja (HS 73), kendaraan dan bagiannya (HS 87), timah dan barang dari timah (HS 80), serta garam, belerang, batu, dan semen (HS 25).

    Sementara komoditas yang mengalami penurunan ekspor adalah logam mulia dan perhiasan/permata (HS 71). Kemudian lemak dan minyak hewan nabati (HS 15), bahan bakar mineral (HS 27), alas kaki (HS 64), dan besi dan baja (HS 72).

    Adapun tujuan utama ekspor Indonesia selama periode Agustus 2020 adalah Inggris yang meningkat sebanyak USD43,7 juta. Ini terjadi lantaran adanya peningkatan pada ekspor barang dari besi dan baja.

    Kemudian ekspor ke Vietnam naik USD40,2 juta yang disokong oleh ekspor lemak dan minyak hewan nabati. Selanjutnya Taiwan yang ekspornya tumbuh USD28,0 juta, Italia USD17,7 juta, dan Thailand USD17,4 juta.

    Negara-negara yang mengalami penurunan ekspor nonmigas paling besar adalah ke Swis yang turun sebanyak USD156,7 juta. Penurunan ini terjadi pada komoditas ekspor logam mulia, perhiasan, dan permata.

    "Sementara ekspor kita ke Malaysia yang turun USD75,2 juta adalah komoditas besi dan baja, bahan bakar mineral, lemak, dan minyak hewan nabati. Selanjutnya Jepang turun USD71,4 juta, Tiongkok anjlok USD61,7 juta, serta India yang turun USD56,7 juta," tutup Suhariyanto.


    (SAW)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id