BPP Listrik Ditekan, Subsidi 2020 Hemat Rp3 Triliun

    Suci Sedya Utami - 18 Januari 2021 13:09 WIB
    BPP Listrik Ditekan, Subsidi 2020 Hemat Rp3 Triliun
    Kelistrikan. Foto : MI/Irfan.



    Jakarta: Direktorat Jenderal (Ditjen) Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan realisasi Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik sepanjang 2020 mengalami penghematan.

    Mengutip data Ditjen Ketenagalistrikan, Senin, 18 Januari 2021, dari total BPP yang dialokasikan pada tahun lalu sebesar Rp359,03 triliun, realisasinya sebesar Rp317,12 triliun. Artinya, BPP berhasil ditekan sebesar Rp41,91 triliun.






    Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Rida Mulyana menjelaskan salah satu faktor yang berpengaruh dalam penghematan tersebut yakni kebijakan harga gas sebesar USD6 per million british thermal unit (MMBTU) untuk sektor kelistrikan.

    Tahun lalu, realisasi pasokan gas harga khusus untuk kelistrikan mencapai 1.396 billion british thermal unit per day (BBTUD). Capping harga gas ini berkontribusi menghemat Rp14 triliun.

    "Gas kita kapitalisasi harganya dari USD8,39 di perencanaan menjadi USD6,30 per BBTU. BPP-nya jadi turun 11,7 persen," kata Rida di Jakarta.

    Selain capping harga gas, faktor lainnya yang menciptakan penghematan yakni kebijakan penetapan harga batu bara USD70 per ton, kemudian rendahnya harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP).

    Keseluruhan tersebut masuk dalam salah satu komponen pembentukan BPP yang disebut biaya bahan bakar pembangkit listrik. Secara total, biaya bahan bakar bisa dihemat sebesar Rp37,51 triliun dari rencana Rp146,67 triliun realisasinya sebesar Rp109,16 triliun. Komponen bahan bakar ini memegang kontribusi sebesar 41 persen dari BPP.

    Selain bahan bakar, realisasi beberapa komponen pembentuk BPP lainnya juga tercatat di bawah proyeksi. Rinciannya, realisasi biaya pemeliharaan sebesar Rp18,36 triliun dari perkiraan awal Rp20,9 triliun, biaya pegawai Rp18,94 triliun dari target Rp20,34 triliun, serta biaya administrasi, penyusutan, dan bunga Rp60,25 triliun dari proyeksi Rp62,73 triliun.

    Namun, terdapat salah satu komponen BPP yang justru melebihi proyeksi, yaitu pembelian listrik dari produsen listrik swasta (Independent Power Producer/IPP) dan sewa pembangkit listrik. Realisasi pembelian setrum dan sewa pembangkit listrik ini mencapai Rp110,42 triliun dari proyeksi awal Rp108,4 triliun.

    Lebih lanjut Rida menambahkan dengan turunnya BPP maka realisasi subsidi listrik juga bisa ditekan sekitar Rp3 triliun dari Rp54,79 triliun menjadi Rp51,84 triliun.

    "Ini salah satu langkah kebijakan pemerintah mampu menghemat belanja negara, dalam hal ini menurunkan subsidi dengan efisiensi BPP," pungkas dia.  


    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id