Benderang di Ujung Liran

    Desi Angriani - 21 Februari 2021 17:58 WIB
    Benderang di Ujung Liran
    PLN saat berkunjung ke rumah warga Dusun Uspisera, Desa Ustutun, Pulau Liran, Maluku - - Foto: Medcom/ Desi Angriani


    Jakarta: Kala itu Pulau Liran masih gelap gulita sebelum perusahaan setrum negara berbagi nyala. Pulau yang dihuni 236 Kepala Keluarga (KK) ini memang sulit dijangkau karena berada di ujung Kepulauan Maluku.

    Setidaknya memakan waktu tiga jam jika masuk melalui perbatasan Timor Leste dengan menyeberangi Selat Wetar. Sementara itu, butuh waktu lebih lama jika menempuh ganasnya lautan Ambon, yakni sekitar 15 jam.




    Wajar saja pulau tersebut begitu jauh dari simbol-simbol perekonomian modern. Mayoritas warga menukar ikan hasil tangkapan mereka dengan bahan kebutuhan pokok, seperti beras, gula dan minyak goreng kepada pedagang dari Dili, Timor Leste.

    Saat matahari tenggelam, warga sekitar sibuk menyalakan 'pelita'. Sebutan penerangan lampu dengan tenaga surya hemat energi (LTSHE). Sayangnya, biaya bahan bakar untuk menyalakan pelita sangat mahal sehingga tak ada lampu yang terpasang di jalan-jalan desa.

    Benderang di Ujung Liran
    Dusun Uspisera dihuni oleh 25 kepala keluarga - - Foto: Medcom/ Desi Angriani

    Mereka mesti merogoh kocek Rp300 ribu per bulan demi menyalakan tiga pelita. Itupun dilakukan secara patungan dengan beberapa rumah demi anak-anak mereka bisa belajar di malam hari.

    Sementara itu, para nelayan memilih menggunakan genset dengan biaya lebih dari Rp350 ribu per bulan. Padahal untuk mencari ikan, mereka tidak memiliki peralatan yang memadai. Nelayan melakukannya dengan cara menyelam dan menombak ikan langsung di air.

    Berangkat dari kisah tersebut, PT PLN (Persero) mulai membangun Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) demi memberi keadilan energi di wilayah tersebut. Pembangunan dimulai pada 2015 dengan daya 240 kW. Rata-rata Biaya Pokok Produksi (BPP) mencapai 11.182 kWh dengan biaya Rp12 miliar.

    Semula pemasangan tiang-tiang di dua desa berjalan mulus lantaran medan yang tidak sulit. Sebanyak 211 warga di desa Ustutun dan Manoha pun mencicipi penerangan dari PLN. Namun, masih ada 25 KK di dusun Uspisera yang belum terjamah aliran listrik pada 2017. PLN pun menerjunkan timnya untuk membangun Jaringan Tegangan Menengah (JTT) sepanjang empat kilometer.

    Untuk mencapai lokasi itu, mereka harus berjalan kaki selama dua jam dengan mendaki bukit dan menyusuri garis pantai yang sempit. Tak satupun kendaraan yang bisa melewati jalur tersebut dari desa tetangga.

    Benderang di Ujung Liran
    Perjalanan menuju Dusun Uspisera dari Desa Ustutun - - Foto: Medcom/ Desi Angriani

    Musim kemarau pun membuat hawa panas membayang dan matahari hampir tegak di atas kepala. Sambil menyeka peluh, tim PLN terpaksa naik ke atas bukit untuk membawa tiang-tiang listrik yang akan dipancang.

    Satu tiang saja harus dibawa oleh tujuh orang. Belum lagi kondisi tanah yang keras sehingga menyulitkan penggalian. Dalam sehari, tim PLN hanya mampu membuat tiga lubang. Begitulah perjuangan berbagi pelita di ujung Liran, aku Direktur Human Capital Management PLN Muhamad Ali yang ikut dalam ekspedisi tersebut.

    Kepada warga, PLN menjual Kwh dengan harga subsidi sebesar Rp650/kWh. Maklum rumah-rumah warga hanya beralaskan pasir dan atap jerami, sehingga PLN haram mengambil untung. "Tentunya kita enggak bicara untung rugi kita bicara elektrifikasi. kalau kita lihat biaya pokoknya enggak masuk," kata Ali kepada Medcom.id di lokasi.

    Baca: 72 Tahun Merdeka, Pulau Ini Baru Dimasuki Dokter

    Sejak PLN masuk ke pulau tersebut, taraf hidup warga mulai meningkat karena mereka bisa beraktivitas di malam hari. Kegembiraan tersebut bahkan terpancar dari raut wajah Abigail, 23, warga dusun Uspisera.

    Betapa tidak, setelah puluhan tahun menanti, akhirnya tempat tinggalnya teraliri listrik dengan harga murah. Ia dan 24 rumah lainnya bisa menggunakan listrik kapanpun sesuai kebutuhan.

    "Kami senang di sini akan masuk listrik karena memang gelap sekali. Dan kami hanya membayar Rp30 ribu-Rp60 ribu saja per bulan," imbuhnya kepada Medcom.id yang turut berkunjung ke lokasi pada September 2017 lalu.

    Benderang di Ujung Liran
    Abigail, 23, warga Dusun Uspisera - - Foto: Medcom/ Desi Angriani

    Mewujudkan keadilan energi

    Angka rasio elektrifikasi Indonesia sudah mencapai 99,48 persen. Namun faktanya masih terdapat 433 desa yang belum teraliri listrik. Sejumlah desa tersebut tersebar di empat provinsi dengan rincian sebanyak 325 desa di Papua, 102 desa di Papua Barat, lima desa di Nusa Tenggara Timur, dan satu desa di Maluku.

    Padahal selama 75 tahun, PLN sudah berupaya menghadirkan listrik hingga ke seluruh pelosok negeri. Mulai dari perkotaan, pedesaan, bahkan hingga daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal).
     



    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All




    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id