Anggaran 'Disunat', Sejumlah Infrastruktur Energi Terhambat

    Suci Sedya Utami - 23 Juni 2020 15:47 WIB
    Anggaran 'Disunat', Sejumlah Infrastruktur Energi Terhambat
    Menteri ESDM Arifin Tasrif - - Foto: dok Kementerian ESDM
    Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut sejumlah infrastruktur di sektor energi terhambat imbas pemangkasan anggaran untuk penanganan pandemi covid-19. Anggaran yang dipangkas mencapai Rp3,5 triliun dari pagu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp9,66 triliun.
     
    Menteri ESDM Arifin Tasrif mengungkapkan infrastruktur yang terdampak di subsektor minyak dan gas bumi (migas), yakni pembangunan jaringan gas (jargas) bumi.

    Dalam APBN 2020, target pembangunan jargas mencapai 266.070 sambungan rumah tangga (SR) atau dengan anggaran Rp3,02 triliun. Namun, imbas pandemi pembangunan jargas menjadi 127.864 SR atau Rp1,47 triliun. Sisanya sebanyak 138.206 SR atau sekitar Rp1,55 triliun akan dilanjutkan tahun depan.

    "Berkurang 138.206 SR yang akan digantikan pada 2021," kata Arifin dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 23 Juni 2020.

    Kemudian konverter kit untuk nelayan sebanyak 40 ribu paket dengan anggaran Rp350 miliar, dan konverter kit untuk petani sebesar 10 ribu paket dengan anggaran Rp82,5 miliar. Lalu konversi minyak tanah ke LPG 3 Kg sebanyak 526.616 paket dengan anggaran Rp266,5 miliar tidak akan digarap tahun ini.

    "Semuanya dibatalkan, konverter kit untuk nelayan akan dilanjutkan di 2021," ujar Arifin.

    Untuk subsektor energi baru terbarukan dan konservasi energi (EBTKE), pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap atau rooftop perkantoran, gedung sosial atau rumah ibadah menyisakan 100 unit atau Rp77,01 miliar dari sebelumnya 800 unit dengan anggaran Rp175 miliar. Sementara sisanya 700 unit dengan anggaran Rp97,98 miliar akan dilimpahkan ke tahun depan.

    Begitu pula penerangan jalan umum (PJU) tenaga surya yang ditargetkan dibangun di 45 ribu titik dengan anggaran Rp800 miliar. Kini hanya menyisakan 16.800 titik dengan anggaran Rp285,95 miliar.

    Lebih lanjut, biogas komunal dari target 24 unit dengan anggaran Rp28,6 miliar harus dibatalkan seluruhnya. Adapun revitalisasi pembangkit listrik EBT dari target 24 unit dengan anggaran Rp50 miliar hanya tersisa tujuh unit di tahun ini dengan anggaran Rp19,99 miliar.

    Sementara itu, PLTS penunjang tugas kementerian dan lembaga (K/L) dari target 73 unit yang akan dibangun dengan anggaran Rp120 miliar pun terpaksa dibatalkan seluruhnya. Dari sisi subsektor badan geologi juga terjadi pemangkasan program infrastruktur, seperti pembangunan sumur bor air tanah menjadi 570 titik dengan anggaran Rp335,43 miliar.

    Mantan Duta Besar Indonesia untuk Jepang ini menambahkan proyek-proyek tersebut belum terlalu urgen untuk daerah remote lantaran terdapat kenaikan biaya, berdasarkan realisasi yang terjadi serta belum adanya kepastian lokasi. Karena itu, proyek tersebut bisa ditunda untuk 2021.

    "Capex untuk proyek yang tidak prioritas akibat pandemi covid atau dapat ditunda tahun berikutnya atau diperpanjang. Dari single years jadi multiyears dan proyek multiyears diperpanjang ke tahun selanjutnya," jelas Arifin. 



    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id