Mendag akan Evaluasi Kebijakan Impor Gula

    Ilham wibowo - 11 Juni 2020 18:13 WIB
    Mendag akan Evaluasi Kebijakan Impor Gula
    Ilustrasi. Foto: MI/Susanto
    Jakarta: Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto mengatakan tetap memperhatikan kelangsungan industri gula di dalam negeri, terutama dari para petani tebu agar keuntungannya tetap terjaga. Kebijakan impor akan dievaluasi saat produktivitas pengolahan sudah kembali memenuhi kebutuhan dalam negeri.

    "Harga (gula) kita sudah cukup tinggi dibandingkan internasional, impor juga kami tidak mau over supply dan kami kendalikan, tapi tidak bisa ditunda, stok kita harus cukup," kata Agus dalam konferensi pers secara virtual di Jakarta, Kamis, 11 Juni 2020.

    Agus memaparkan bahwa kebijakan impor diambil setelah memperhatikan ketersediaan stok di awal 2020 dan proyeksi panen tebu yang mengalami kemunduran. Kelangkaan gula beberapa bulan terakhir telah mengerek harga kuat eceran hingga menyentuh Rp20 ribu per kg, jauh di atas ketentuan harga maksimal yakni Rp12.500 per kg.

    "Tidak bisa impor ini menurunkan terlalu jauh di bawah HET, ada pengendalian impor dan ini sangat kita perhatikan. Kita akan evaluasi harga di lapangan, jangan sampai harga di petani lebih rendah terlalu jauh," ungkapnya.

    Ke depan, Agus akan memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga lain agar potensi produksi gula lokal bisa maksimal untuk kebutuhan domestik. Menurutnya, para petani tebu masih bisa didorong melakukan efisiensi produksi agar kembali mendapatkan keuntungan yang ideal pada saat musim giling.

    "Tinggal kita lihat bagaimana petani punya efisiensi dan kita bantu agar biaya produk tidak terlalu tinggi. Akan kami dorong dengan kementerian lain agar petani tidak dirugikan dengan memperhatikan efisiensi produksinya," ucap Agus.

    Sebelumnya, Sekjen Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) M. Nur Khabsyin menyampaikan bahwa keuntungan yang mestinya diraih petani pada saat musim giling mesti hilang lantaran bersamaan dengan masuknya stok gula impor. Ia bilang harga gula petani mulai mengalami penurunan seiring dimulainya musim giling tebu pada akhir Mei dan awal Juni ini secara serentak di pulau Jawa.

    "APTRI menilai, tekanan harga itu salah satunya dipicu dengan masuknya gula impor secara bersamaan dengan musim giling tebu," kata Nur melalui keterangan tertulisnya, belum lama ini.

    Ia memaparkan bahwa di wilayah Pulau Jawa saat ini harga gula sudah menyentuh Rp10.800 per kg di tingkat petani. Jumlah tersebut, kata dia, turun jauh dibanding akhir bulan puasa yang masih laku sekitar Rp12.500-Rp13 ribu per kg.

    "Saat ini petani kesulitan menjual gula karena para pedagang dan distributor sudah mempunyai stok dari gula impor. Kami minta kepada pemerintah agar mengintruksikan pada perusahaan yang memperoleh izin impor untuk membeli gula petani," paparnya.

    Nur menuturkan stok impor gula yang terus berdatangan ditambah dengan mulai diproduksinya gula tebu lokal akan membuat pasokan nasional berlimpah. Penurunan harga gula pada musim giling kali pun dirasakan jauh lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya.

    "Padahal, musim giling tebu diperkirakan akan berlangsung dalam empat sampai lima bulan ke depan. Harga di petani masih bisa turun terus bahkan sampai batas harga acuan pemerintah yang saat ini masih berlaku yakni Rp9.100 per kg," tuturnya.

    Harga acuan gula di tingkat petani memang diatur sesuai Permendag Nomor 42/2016 sebesar Rp9.100 per kg sementara di tingkat konsumen harga eceran tertinggi Rp12.500 per kg yang sudah berlaku kurun waktu empat tahun terakhir.

    "Kami menilai, harga itu sudah tidak sesuai dengan kondisi riil biaya produksi gula dalam negeri karena komponen biaya produksi konsisten meningkat setiap tahun, termasuk inflasi juga tiap tahun naik," ucap Nur.

    Sesuai perhitungan APTRI, lanjut dia, biaya pokok produksi gula berdasarkah kajian lapangan sudah menyentuh Rp12.772 per kg. Ia pun meminta pemerintah mulai memperhatikan petani tebu setelah kemarin disibukkan dengan stabilitasi harga di tingkat konsumen.

    "Tolong pemerintah sekarang fokus untuk perlindungan petani, tolong HPP gula tani segera diterbitkan. Kami sudah usulkan agar HPP gula tani dinaikkan menjadi Rp14 ribu per kg. Hpp gula tani dibutuhkan sebagai pengaman harga ditingkat petani dan sebagai pedoman untuk menghitung pendapatan petani," pungkasnya.

    (DEV)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id