Bercocok Tanam Jadi Solusi Penghasilan di Tengah Pandemi

    Husen Miftahudin - 02 Juni 2020 12:57 WIB
    Bercocok Tanam Jadi Solusi Penghasilan di Tengah Pandemi
    Ilustrasi. Foto: Shutterstock
    Jakarta: Ahli pertanian Anton Apriyantono mengatakan bercocok tanam dapat menjadi solusi untuk mendapatkan penghasilan di tengah menurunnya pendapatan akibat pandemi virus korona (covid-19). Terutama bagi pekerja Jabodetabek yang terpaksa harus dirumahkan dulu.

    "Sebaiknya bertanam sayur, karena masa panen lebih cepat dan pemeliharaannya lebih mudah," kata Anton dalam keterangannya yang diterima Medcom.id, Selasa, 2 Juni 2020.

    Menurut mantan Menteri Pertanian (Mentan) ini, bertanam sayuran tidak membutuhkan lahan yang luas. Di pekarangan rumah pun dapat dilakukan, sehingga ideal untuk kawasan Jabodetabek.

    Sesuai konsep pertanian perkotaan (urban farming), bertanam sayuran bisa mendapat penghasilan tambahan. Bahkan bisa dikombinasikan dengan berternak ikan jenis lele dan nila.

    "Sebelum memulai urban farming agar dihitung biaya-biayanya mulai dari sewa lahan, tenaga kerja, benih, pupuk, termasuk penggunaan listrik untuk pompa air," jelas Anton.

    Salah satu urban farming telah diaplikasikan pekerja pariwisata yang kehilangan penghasilan selama masa pandemi lantaran hotel tempatnya berkerja harus tutup. Sebanyak sepuluh pekerja pariwisata kini beralih menjadi petani sayuran.

    Awalnya mereka bekerja sebagai chef, bartender, dan pemandu pariwisata. Namun terpaksa libur dulu karena hotelnya tempat berkerja tutup sementara waktu.

    Akademisi dari Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Ni Wayan Sri Sutari mengungkapkan para pekerja pariwisata ini mendapat pelatihan budidaya hortikultura dengan menggunakan benih cap Panah Merah yang merupakan produksi PT East West Seed Indonesia (Ewindo) seperti pokcoy varietas nauli, F1, sawi varietas shinta, bayam varietas maestro, dan bayam merah mira.

    Secara konsep, urban farming memanfaatkan lahan kosong seluas 2.000 meter persegi di tepi Jalan Danau Tempe Denpasar Selatan. Bila di Bali bisa berhasil, cara yang sama juga dapat diterapkan bagi para pekerja yang kehilangan mata pencahariannya akibat wabah covid-19 di Jabodetabek.

    "Tidak ada salahnya untuk mencoba, yang penting tekun untuk berlatih maka hasilnya akan sukses seperti pekerja hotel di Bali ini," tutur Sri.

    Salah seorang petani Agung Amertajaya mengaku hanya membutuhkan waktu setengah bulan untuk beradaptasi. Dia mengaku di tengah pandemi ini sejumlah rekan-rekannya mengalami kesulitan karena kehilangan penghasilan sebelum akhirnya bertemu dengan Sri Sutari yang mengajak untuk bercocok tanam.

    Dalam menjalankan pelatihan termasuk bercocok tanam, juga menerapkan protokol kesehatan mulai dari menjaga jarak, menggunakan masker, serta mencuci tangan setelah beraktivitas. Selama di lapangan, selain melibatkan rekan-rekan sesama pekerja pariwisata, juga dari keluarga serta tetangga sehingga pekerjaan menjadi lebih ringan.

    Anton Apriyantono menegaskan sektor pertanian diharapkan bisa menjadi jaring pengaman sosial mengingat pelatihannya tidak terlalu sulit. Namun dampak yang diberikan sangat besar.

    "Jabodetabek menjadi percontohan pertanian perkotaan meski di lahan yang sempit namun dengan optimalisasi akan memberikan panen yang melimpah. Kuncinya tekun dan memiliki kemauan untuk mempelajari cara bertani," tutup Anton.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id