Perajin Tahu Kurangi Produksi karena Harga Kedelai naik

    Antara - 30 Mei 2021 20:44 WIB
    Perajin Tahu Kurangi Produksi karena Harga Kedelai naik
    Kedelai. Foto ; AFP.



    Boyolali: Sejumlah perajin tahu di Dukuh Bukurireng Desa Bendan Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali banyak yang mengeluh karena tingginya harga bahan baku kedelai di pasaran sehingga dampaknya mengurangi produksi.

    Seorang perajin tahu Tanto (56) di Desa Benden, Banyudono, Boyolali, ketika diwawancarai Antara, Minggu, 30 Mei 2021 mengatakan harga kedelai di pasar Boyolali kini masih tinggi yakni dijual hingga Rp11 ribu per kilogram (kg) atau naik Rp1.000 per kg, sehingga banyak pengusaha tahu yang menurunkan produksinya.

     



    Tanto menjelaskan harga kedelai di Boyolali jelang Lebaran awalnya dijual Rp9.000 per kg kemudian naik menjadi Rp10 ribu per kg dan kini naik lagi menjadi Rp11 ribu per kg. Perajin tahu banyak yang khawatir dengan tingginya harga kedelai usahanya bisa gulung tikar.

    Padahal, kata Tanto, dari usaha tahu yang ditekuni sudah puluhan tahun tersebut menjadi harapan utama ekonomi keluarganya.

    Oleh karena itu, untuk menyiasati tingginya harga bahan baku tersebut terpaksa menaikkan harga jual tahu. Harga tahu semula dijual Rp40 ribu per cetak kini dinaikan menjadi Rp45 ribu per cetak. Setiap cetak tahu bisa dipotong-potong menjadi 200 biji.

    Dia menjelaskan, dengan tinggi harga bahan baku tersebut terpaksa mengurangi produksinya. Pihaknya sebelumnya mampu mengolah bahan baku kedelai rata-rata sebanyak 75 kg per hari, tetapi kini dikurangi hanya 50 kg per hari atau menurun sekitar 33,33 persen.

    "Saya menurunkan produksi tahu karena juga berdampak turunnya permintaan pasar baik pembeli maupun para pedagang," katanya.

    Selain itu, lanjut dia, hal ini, diperparah dengan kenaikan harga minyak goreng curah di pasar yang semula dijual Rp190 ribu per jerigen isi 17 kg menjadi Rp250 ribu per jeriken isi 17 kg. Minyak goreng ini, untuk jenis tahu goreng yang dijual di pasar-pasar.

    Hal tersebut sama yang dirasakan oleh perajin tahu lainnya, Gono (50), warga Desa Bendan Banyudono Boyolali. Gono menjelaskan jika harga bahan baku kedelai dan minyak goreng tidak segera turun, maka pihaknya akan menurunkan produksi tahu.

    "Kami dengan harga bahan baku tinggi ini, keuntungnya sangat mepet. Saya berharap harga kedelai segera turun sehingga produksi tahu tidak terganggu," kata Gono.

    Darmastuti (45), salah satu pedagang tahu di Boyolali mengatakan dirinya beberapa hari ini telah mengurangi dagangan tahu karena produksi tempat usaha tahu juga berkurang.

    Menurut Darmastuti, saat kondisi normal biasanya mampu menjual tahu rata-rata sebanyak 10 cetak per hari atau sebanyak 2.000 biji. Namun, harga tahu naik, penjualan dagangannya dikurangi hanya 5-6 cetak per hari atau sekitar 1.000 biji hingga 1.200 per hari.

    Terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Boyolali Joko Suhartono soal ketersediaan pangan komoditas kedelai di Boyolali mengakui produksi memang belum mampu memenuhi kebutuhan. Usaha perajin tahu dan tempe di Boyolali selama ini, masih mengandalkan bahan baku kedelai impor.

    Harga kedelai impor di pasar Boyolali saat ini, memang berkisaran Rp10 ribu per kg hingga Rp11 ribu per kg, sedangkan jika kondisi normal dijual sekitar Rp8.000 per kg. Kebutuhan kedelai di Boyolali, hingga Mei tahun ini, mencapai 8.351 ton. 

    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id