Maraknya Pengeboran Ilegal Jadi Ancaman Produksi Migas

    Suci Sedya Utami - 24 Oktober 2020 08:15 WIB
    Maraknya Pengeboran Ilegal Jadi Ancaman Produksi Migas
    Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto. FOTO: MI/PANCA SYURKANI
    Jakarta: Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan kegiatan pengeboran ilegal (illegal drilling) dilakukan di sumur-sumur minyak menjadi masalah serius. Pengeboran ilegal tersebut bahkan bisa mengancam produksi minyak karena tidak tercatat.

    Kegiatan ilegal ini bila dihitung-hitung mampu memproduksi minyak sekitar 10 ribu barel per hari. "Ini menjadi masalah serius, dan ini menyangkut masalah produksi. Perkiraan produksi dari illegal drilling itu 10 ribu barel per hari. Yang namanya kegiatan ilegal, memang enggak boleh," kata Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto, Jumat, 23 Oktober 2020.

    Dalam kesempatan yang sama, Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiratno mengatakan dalam dua tahun terakhir kegiatan ilegal memang makin marak. Menurut Julian hal itu merupakan dampak dari adanya sumur-sumur tua yang dioperasikan di 1970-an dan sudah tidak digunakan saat ini.

    Ia bilang sebenarnya apabila sumur tersebut berada di kawasan wilayah kerja milik Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), pihaknya dengan mudah bisa mengatasinya dengan menutup sumur. Di 2016-2017 terdapat 500-an sumur yang ditutup, atau bisa juga dikerjasamakan dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

    Namun banyak juga sumur-sumur liar di luar wilayah operasi KKKS, misalnya, di tanah-tanah milik warga atau di hutan lindung. "Yang ini tentu kita harus koordinasi dengan pemda, aparat keamanan yang memang menanganinya harus bersama-sama," kata Julius.

    Julius mengatakan pihaknya tengah mencari cara untuk mengatasi pengeboran ilegal tersebut. Salah satu isu yang diperbincangkan yaitu dengan menjadikannya sebagai kegiatan yang legal. Ia bilang hal ini tengah dibicarakan dan dicarikan payung hukumnya oleh tim khusus yang menangani illegal drilling.

    Senada, Deputi Keuangan dan Monetisasi SKK Migas Arief Handoko mengatakan apabila dilegalkan maka tentu akan berdampak positif bagi pendapatan negara. Sebab minyak yang diproduksi akan tercatat secara nasional.

    "Saya senang kalau ilegal itu dianggap jadi legal, artinya kan yang dimonetisasi lebih banyak lagi, komersialisasi penerimaan negara akan tambah banyak target tercapai," pungkas Arief.

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id