Menperin Minta Kemandirian Industri Alat Kesehatan dan Farmasi Ditingkatkan

    Ilham wibowo - 14 Mei 2020 15:08 WIB
    Menperin Minta Kemandirian Industri Alat Kesehatan dan Farmasi Ditingkatkan
    Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita. Foto: Dok.Kemenperin
    Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong industri alat kesehatan dan farmasi untuk memenuhi permintaan masyarakat terhadap produk-produk kesehatan. Saat ini, kebutuhan produk dari kedua sektor tersebut meningkat seiring penanganan wabah covid-19.

    “Industri alat kesehatan dan farmasi merupakan sektor yang masuk kategori high demand. Kondisi ini perlu dimanfaatkan dengan baik, untuk mewujudkan kemandirian Indonesia di sektor kesehatan dan farmasi,” ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita melalui keterangan tertulisnya, Kamis, 14 Mei 2020.

    Agus telah melakukan pertemuan virtual dengan Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (Aspaki) dan Gabungan Pengusaha Farmasi. Pelaku usaha perlu mengambil peluang dari tingginya kebutuhan obat-obatan maupun alat kesehatan yang telah digunakan untuk mengatasi pandemi covid-19.

    Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatatkan telah menyalurkan sekitar delapan juta alat kesehatan seperti alat pelindung diri (APD), googles, sarung tangan medis, masker, alat rapid test, dan lainnya untuk penanganan wabah covid-19. Selain itu, telah disalurkan juga 10 juta tablet obat-obatan dan vitamin.

    Menurut Agus, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dari alat kesehatan sudah mencapai masih ada yang hanya 25 persen. Meski demikian produk yang TKDN sudah mencapai 90 persen merupakan capaian positif yang harus dijaga sehingga sektor farmasi dan alat kesehatan dapat mengoptimalkan bahan baku yang berasal dari dalam negeri.

    Peningkatan utilisasi TKDN merupakan kunci utama agar Indonesia dapat menjadi negara yang mandiri di sektor alat kesehatan dan farmasi. Tingginya impor di sektor alat kesehatan dan farmasi sebenarnya merupakan sebuah peluang yang harus dimanfaatkan oleh pelaku industri Tanah Air untuk meningkatkan kandungan dalam negeri dalam setiap produknya.

    “Penghitungan TKDN untuk produk farmasi sebelumnya berbasis biaya, dengan aturan baru menjadi berbasis pada proses,” ujarnya.

    Peluang ini juga didukung oleh potensi bahan baku obat dari alam yang banyak terdapat di dalam negeri. Bahan baku asli Indonesia tersebut dapat dikembangkan menjadi bahan substitusi impor untuk industri farmasi dalam rangka pengembangan obat modern berbasis bahan alam (OMAI).

    "Meningkatnya konsumsi produk-produk kesehatan oleh masyarakat berpotensi tumbuh dan berkembang menjadi kondisi new normal. Dengan kondisi ini, masyarakat akan menjadikan belanja farmasi sebagai prioritas," pungkasnya.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id