Pakar: Kasus BPJamsostek Berbeda dengan Jiwasraya

    Eko Nordiansyah - 23 Februari 2021 13:13 WIB
    Pakar: Kasus BPJamsostek Berbeda dengan Jiwasraya
    Ilustrasi kantor BPJamsostek/ BPJS Ketenagakerjaan - - Foto: Medcom/ Eko Nordiansyah



    Jakarta: Pakar Ekonomi Keuangan Roy Sembel menilai dugaan tindak pidana atas penurunan nilai investasi (unrealized loss) di BPJamsostek (BPJS Ketenagakerjaan) berbeda dengan kasus Jiwasraya dan ASABRI.

    Pasalnya, portofolionya BPJS Ketenagakerjaan berisi saham-saham LQ45 yang unrealized lossnya mengikuti kondisi pasar. Sementara unrealized loss di Jiwasraya berisi saham-saham gorengan yang volatile.




    "Selain itu, persentase aset allocation-nya BPJS Ketenagakerjaan dibandingkan dengan Jiwasraya jauh berbeda. Portofolio yang terdiri dari saham di BPJS Ketenagakerjaan jauh lebih kecil dibandingkan porsinya portfolio saham Jiwasraya," ungkapnya dalam webinar 'Pengelolaan Investasi dan Potensi Unrealized Loss pada Lembaga Milik Negara, Apakah Pasti Menjadi Kerugian Negara?,' di Jakarta, Selasa 23 Februari 2021.

    Menurut Pengamat Hukum Pasar Modal Indra Safitri, kerugian investasi adalah salah satu risiko pasar yang akan dihadapi oleh investor. Namun jika berbicara unrealized loss, terkait kerugian secara buku bukan faktual.

    "Jika potensi kerugian, atau kerugian yang belum dibukukan, masuk ranah merugikan negara, maka pasal ini akan menakutkan bagi semua pihak yang mengurus investasi. Padahal, jika rugi akibat risiko bisnis semata, tentu tidak masuk ranah pidana. Untung dan rugi biasa dalam bisnis. Saham naik, dan saham turun juga hal yang jamak di pasar modal," jelas dia.

    Pada Agustus-September 2020, BPJS Ketenagakerjaan mengalami unrealized loss mencapai Rp43 triliun. Pada akhir Desember 2020, angkanya turun menjadi Rp22,31 triliun, dan pada Januari 2021 hanya Rp14,42 triliun. Artinya, dapat dipastikan potensi kerugian tergantung harga saham yang menjadi portofolio BPJS Ketenagakerjaan,

    Di lain sisi, kontribusi pendapatan termasuk dari saham dan reksa dana yang menjadi pilihan investasi BPJS Ketenagakerjaan menghasilkan angka yang relatif besar. Berdasarkan data yang dihimpun, hasil investasi bruto selama lima tahun terakhir sejak 2016 sampai 2020 sebesar Rp137,2 triliun dan Rp33 triliun untuk reksa dana dan saham.

    "Lazimnya pasar saham, ada kalanya naik, ada kalanya turun. Jika kondisi baik, ekonomi baik, kemungkinan harga saham juga bergairah. Sebaliknya, kalau ekonomi sedang terpuruk, seperti di awal-awal pandemi covid-19, Maret 2020 lalu, harga saham berguguran. Namun, ketika mulai membaik dan banjir likuiditas maka harga saham kembali terbang," tambah Chairman Infobank Institute Eko B. Supriyanto.

    Melihat hal tersebut, ia menyayangkan jika penyidikan oleh Kejaksaan Agung dilakukan hanya karena atas laporan masyarakat dan kontra produktif bagi pengembangan pasar modal. Hal ini juga akan menebar ketakutan bagi lembaga lain, terutama kepada direksi yang mengurus investasi. Dampak lainnya, pasar modal menjadi sepi karena berinvestasi di pasar saham dipenuhi risiko, hingga ancaman dikriminalisasi.

    "Semoga kasus yang membelit BPJS Ketenagakerjaan ini tidak bergerak liar, merembet ke instansi lain yang mengurus investasi. Kasus Jiwasraya dan Asabri tidak dijadikan preseden bagi semua, harus dilihat kasus per kasus. Tidak bisa disamakan, meski dari luar sama, harus dilihat proses, dan saham-saham yang dikoleksi BPJS Ketenagakerjaan kelas LQ45, tidak ada saham gorengan. Harus dibedakan kerugian karena risiko bisnis dan korupsi, dan dalam hal ini BPJS Ketenagakerjaan karena risiko bisnis yang belum direalisasi. masih punya peluang reborn," tutup Eko.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id