Miris, Tingkat Ketimpangan Kaya-Miskin Kian Melebar Imbas Pandemi

    Husen Miftahudin - 16 Februari 2021 08:11 WIB
    Miris, Tingkat Ketimpangan Kaya-Miskin Kian Melebar Imbas Pandemi
    Ilustrasi. FOTO: MI/IMMANUEL ANTONIUS



    Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat ketimpangan antara penduduk kaya dengan miskin semakin melebar. Ini tercermin dari kenaikan angka Gini Ratio yang pada September 2020 sebesar 0,385 atau naik 0,004 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2020 yang sebesar 0,381.

    Kemudian angka itu meningkat 0,005 poin dibandingkan dengan Gini Ratio September 2019 yang sebesar 0,380. "Seiring naiknya persentase penduduk miskin menjadi 10,19 persen, Gini Rationya juga meningkat dari 0,380 menjadi 0,385. Peningkatan Gini Ratio ini terjadi baik di kota maupun di desa," ungkap Kepala BPS Suhariyanto, Senin, 15 Februari 2021.




    Suhariyanto menjelaskan angka Gini Ratio memiliki skala nol sampai satu. Jika angka Gini Ratio tersebut semakin dekat dengan angka satu maka ketimpangan pengeluaran antara penduduk kaya dengan penduduk miskin semakin tinggi.

    Adapun tingkat Gini Ratio di daerah perkotaan pada September 2020 tercatat sebesar 0,399. Angka tersebut naik dibanding Gini Ratio periode Maret 2020 yang sebesar 0,393 dan Gini Ratio September 2019 yang sebesar 0,391.

    Sementara itu, Gini Ratio di daerah perdesaan pada September 2020 tercatat sebesar 0,319. Angka tersebut naik dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2020 yang sebesar 0,317 dan Gini Ratio September 2019 yang sebesar 0,315.

    Peningkatan gini ratio terjadi di 14 provinsi dari total 34 provinsi di Indonesia. Utamanya di Pulau Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua. Tingkat ketimpangan tertinggi terjadi di DKI Jakarta yang naik dari 0,391 ke 0,400.

    "Pergerakan Gini Ratio di provinsi berbeda-beda, ada provinsi-provinsi yang mengalami peningkatan Gini Ratio, tetapi juga ada provinsi yang mengalami penurunan Gini Ratio," tuturnya.

    "Ini terjadi karena perilaku dari masyarakat 40 persen lapisan terbawah, 40 persen lapisan menengah, dan 20 persen (atas) itu berbeda-beda sehingga komposisi dari pengeluaran masyarakat di masing-masing provinsi itu yang menyebabkan ada perbedaan," paparnya.

    Menurutnya ketimpangan pengeluaran antara penduduk kaya dan miskin terjadi karena peningkatan jumlah orang miskin di Indonesia. Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2020 mencapai 27,55 juta orang. Totalnya naik 2,76 juta orang ketimbang September 2019. Salah satu faktor utamanya adalah pandemi covid-19 yang mengganggu aktivitas perekonomian.

    Secara persentase, penduduk miskin pada September 2020 setara dengan 10,19 persen terhadap jumlah penduduk Indonesia atau naik 0,97 persen terhadap periode yang sama pada tahun sebelumnya.

    Persentase ini juga lebih tinggi dibandingkan dengan di Maret 2020 yang sebesar 9,78 persen, atau terjadi kenaikan 0,41 persen poin. Artinya, terdapat 1,13 juta orang tambahan yang masuk ke kategori miskin dalam kurun waktu enam bulan.

    "Meski ada kenaikan penduduk miskin yang dialami oleh berbagai negara karena pandemi covid-19, kenaikan penduduk miskin di Indonesia tidak setinggi berbagai prediksi atau simulasi karena berbagai program perlindungan sosial yang dirancang pemerintah dan digulirkan selama masa pandemi, mulai dari bansos, kartu prakerja, dan sebagainya," pungkas Suhariyanto.

     

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id