Cukai Rokok Naik, Serapan Tembakau Bakal Anjlok 30%

    Husen Miftahudin - 09 November 2020 17:34 WIB
    Cukai Rokok Naik, Serapan Tembakau Bakal Anjlok 30%
    Ilustrasi industri rokok. Foto: Medcom.id/Suci Sedya Utami
    Jakarta: Akademisi Universitas Jember Fendi Setyawan menilai rencana penaikan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) alias cukai rokok di kisaran 10-17 persen akan berimbas pada anjloknya serapan tembakau sebesar 30 persen, dan tenaga kerja seiring efisiensi ketat yang dilakukan oleh industri menyusul melemahnya daya beli masyarakat.

    "Dari simulasi yang kami lakukan bersama Tim Koordinasi Program Revitalisasi Pertembakauan Jawa Timur, sudah pasti kenaikan cukai berpengaruh terhadap serapan tembakau. Kontraksi yang muncul (berdasarkan asumsi), akan memengaruhi existing serapan bahan baku hingga 30 persen bila kenaikan CHT di kisaran 10-17 persen," ujar Fendi dalam keterangan resminya, Senin, 9 November 2020.

    Fendi mengasumsikan, apabila total serapan tembakau nasional pada tahun lalu sebesar 167 ribu ton dan proyeksi penurunan serapan hingga 30 persen imbas kenaikan tarif cukai rokok, maka diasumsikan bahwa lebih dari 50 ribu ton tembakau petani tidak terserap. Kondisi tersebut membuat pabrikan menekan angka produksi sebagai langkah hati-hati, sekalipun pabrikan telah melakukan stok bahan baku.

    "Tata niaga IHT ini unik. Pabrikan beli tembakau dari petani, bisa disimpan untuk dipakai 2-3 tahun mendatang. Meski demikian, saya yakin industri pasti berhitung cermat terkait bahan baku sebagai imbas dari CHT," jelas pengamat tata niaga pertembakauan ini.

    Fendi juga melihat bahwa pemanfaatan (refocusing) anggaran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) sebanyak 80-90 persen dialokasikan untuk pemulihan covid-19. Barulah kemudian 10-20 persen sisa anggaran ditujukan untuk hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan kualitas bahan baku dan upaya pemberantasan rokok ilegal oleh industri.

    "Memang harus diakui kondisinya serba sulit. Bagi pemerintah, langkah untuk meningkatkan devisa, kantong yang paling mudah adalah lewat menaikkan cukai. Sementara itu, industri dan petani tertekan. Kuncinya ada pada aspek regulasi. Sejak awal pemerintah harusnya hadir dan mengatur tata niaga pertembakauan sebagai langkah pengendalian," harap Fendi.

    Sementara itu, akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) Prima Gandhi. Dia mengungkapkan ketika daya beli konsumen terhadap produk hasil tembakau menurun, secara linear industri akan melakukan perhitungan produksi dan ongkos operasional. Langkah efisiensi yang diambil industri berujung pada pengurangan faktor input dan tenaga kerja.

    "Faktor input adalah bahan baku. Misalnya, pabrikan cengkih, maka efisiensi dan efektivitas yang akan dilakukan pabrikan adalah pengurangan tembakau dan cengkih. Dari sisi faktor tenaga kerja, sejalan dengan dampak kenaikan CHT, pabrikan akan memilih langkah mengurangi jumlah karyawan. Pada akhirnya berdampak pada meningkatnya angka pengangguran," ujarnya.

    Pengurangan faktor input sebagai antisipasi dari kenaikan cukai rokok, menurut Gandhi, akan membuat para petani tembakau dan cengkih semakin terpukul. Industri akan mengurangi jumlah serapan bahan baku. Di sisi lain, dalam tata niaga pertembakauan, diversifikasi produk tembakau yang ada saat ini masih belum beragam. Pada akhirnya, petani hanya mengandalkan penjualan daun tembakau kepada industri.

    Untuk meminimalisasi tekanan yang dialami petani yang terkena imbas kenaikan cukai rokok, Gandhi mengusulkan agar penggunaan DBHCHT dapat dimaksimalkan serapannya untuk membantu petani.

    "Yang menjadi kekhawatiran, berdasarkan studi kemitraan dan pendampingan petani yang selama ini kita teliti, petani sulit mendapatkan manfaat maksimal dari DBHCHT. Ujungnya, praktik penggunaan DBHCHT belum bisa diupayakan untuk memakmurkan petani," pungkas Gandhi.

     

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id