Permintaan Ekspor Batu Bara RI Diramal Berkurang

    Suci Sedya Utami - 13 Oktober 2020 18:14 WIB
    Permintaan Ekspor Batu Bara RI Diramal Berkurang
    Ilustrasi produksi batu bara - - Foto: dok AFP
    Jakarta: Institute for Essential Services Reform (IESR) memperkirakan permintaan ekspor batu bara Indonesia akan berkurang di masa mendatang. Hal ini sejalan dengan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yang menginginkan batu bara tidak lagi diekspor dan digunakan sepenuhnya untuk kepentingan dalam negeri.

    Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa mengatakan selama ini 80 persen produksi batu bara nasional selalu diekspor. Sebanyak 60 persen di antaranya diekspor ke Tiongkok dan India.
     
    Namun belakang, kedua negara tersebut tengah mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) dan berencana untuk mengurangi keberadaan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang menggunakan batu bara.

    Apalagi Tiongkok dan India telah menyatakan akan membatasi impor batu bara. Hal ini tentu akan berimplikasi pada ekspor Indonesia. Di sisi lain, kedua negara tersebut juga memiliki cadangan batu bara terbesar dan mulai meningkatkan produksi batu baranya.

    "Ini satu fenomena yang artinya ke depan ekspor Indonesia kedua negara tersebut akan terkendala," kata Fabby dalam peluncuran laporan seri studi peta jalan transisi energi Indonesia secara daring, Selasa, 13 Oktober 2020.

    Fabby menambahkan tidak hanya kedua negara tersebut, ekspor batu bara Indonesia ke negara Asia Timur seperti Korea Selatan, Jepang dan Taiwan juga diperkirakan menurun. Pasalnya, negara-negara tersebut secara eksplisit juga telah menyatakan akan mengurangi penggunaan PLTU.

    "Artinya ekspor kita akan berkurang ditambah lagi dengan tekanan persaingan penjualan batu bara di pasar internasional oleh sejumlah negara seperti Rusia dan Afrika Selatan ke pasar yang didominasi oleh Indonesia," tutur dia.

    Di dalam negeri, kata Fabby, seiring dengan pengembangan EBT yang masif turut menekan penggunaan batu bara. Berdasarkan kajian, sebelum 2030 harga EBT akan lebih kompetitif dari batu bara.

    "Apakah rencana untuk mendorong produksi batu bara ke depan masih akan tetap dilakukan," pungkas dia.

    Mengutip data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengenai proyeksi produksi batu bara 2020-2024 mengalami peningkatan. Di 2020 produksi ditargetkan sebesar 550 juta ton dengan alokasi ekspor 395 juta ton dan domestik 155 juta ton.

    Di 2021 produksi ditargetkan sebesar 609 juta ton yang terbagi untuk ekspor 441 juta ton dan domestik 168 juta ton. Kemudian 2020 sebesar 618 juta ton untuk ekspor 441 juta ton dan domestik 177 juta ton.

    Selanjutnya di 2023 produksi sebesar 625 juta ton untuk ekspor 441 juta ton dan domestik 184 juta ton. Serta di 2024 produksi ditargetkan sebesar 628 juta ton untuk ekspor 441 juta ton dan domestik 187 juta ton. 

    (Des)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id