Menperin Soroti Penggunaan Garam Nasional

    M Sholahadhin Azhar - 25 September 2021 11:03 WIB
    Menperin Soroti Penggunaan Garam Nasional
    Ilustrasi petambak garam/MI/ Ghozi



    Jakarta: Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menyoroti penggunaan garam di Indonesia. Menurut dia, garam merupakan komoditas strategis dengan penggunaan yang meningkat setiap tahun.

    "Rata-rata lima hingga tujuh persen per tahun," kata Agus dalam webinar “Industrialisasi Garam Nasional Berbasis Teknologi” yang diselenggarakan Forum Diskusi Ekonomi dan Politik (FDEP) bersama SBE-UISC, Jumat, 24 September 2021.

     



    Baca: KKP Dorong Kemandirian Garam Nasional

    Menurut dia, pengguna garam terbesar berasal dari sektor industri, yakni petrokimia, aneka pangan, farmasi dan kosmetik, hingga pertambangan minyak. Hal tersebut yang membuat Indonesia harus mengimpor garam, karena produksi nasional tak sampai 1,5 juta ton per tahun.

    Agus mengatakan, industri kimia dasar membutuhkan hingga 2,4 juta ton per tahun. Total, Indonesia membutuhkan 4,6 juta ton pada 2021 untuk memenuhi kebutuhan. 

    Di sisi lain, industri pengguna garam menyumbang devisa hampir 500 kali lipat dari nilai impor garam. Rinciannya yakni Indonesia masih mengimpor garam senilai US$97 juta pada 2020, sebaliknya industri pengguna garam mengekspor produksi hingga US$47,9 miliar.

    “Hal ini menunjukkan betapa pentingnya industri pengguna garam,” kata Agus.

    Pihaknya telah mendorong peningkatan penggunaan garam nasional. Agus berharap perindustrian bisa menyerap hingga 1,5 juta ton garam hasil produksi dalam negeri.

    Wakil Ketua Bidang Kebijakan Publik & Hubungan Antar Lembaga Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Hermawan Prajudi mengatakan ada permasalahan penggunaan garam dalam negeri. Selain jumlah dan keberlanjutan pasokan, kualitas garam dalam negeri memiliki kemurnian di bawah 90 persen.

    Menurut dia, garam untuk keperluan industri paling tidak harus punya kadar kemurnian hingga 97 persen. Malah, sektor farmasi dan kosmetik menuntut tingkat kemurnian 99 persen.

    “Banyak masalah kalau menggunakan garam tidak sesuai standar,” kata Hermawan.

    Dia mengatakan tuntutan itu untuk memenuhi permintaan ekspor sehingga tak ditolak oleh pasar internasional. Guru Besar Universitas Indonesia Misri Gozan membeberkan solusi meningkatkan kualitas garam nasional.

    Misri menyebut dibutuhkan intervensi teknologi dalam produksi garam nasional. Khususnya, dalam menjaga kelembapan supaya menghasilkan garam kualitas tinggi.

    Dia juga membeberkan perbedaan produksi garam Indonesia dari impor. Menurut Misri, produksi dari Tanah Air kebanyakan memanfaatkan penguapan air laut, yang sangat tergantung pada cuaca. Sementara itu, di luar negeri garam ditambang dari gunung.

    (ADN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id