Imbas Covid-19, Operasional Proyek Migas Berpotensi Tertunda

    Suci Sedya Utami - 27 Maret 2020 07:15 WIB
    Imbas Covid-19, Operasional Proyek Migas Berpotensi Tertunda
    Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO
    Jakarta: Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengupayakan agar target proyek-proyek migas yang akan onstream atau beroperasi di tahun ini tidak mengalami penundaan akibat pandemi covid-19.

    Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengakui memang dari 12 proyek yang ditargetkan onstrem tahun ini, terdapat satu proyek yang berpotensi tertunda menjadi tahun depan. "Tetapi kami sedang berupaya untuk meminimalkan pergeserannya. Nanti kami informasikan selengkapnya pertengahan April," kata Dwi, Kamis, 26 Maret 2020.

    Sementara itu, Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiratmo mengatakan, pengerjaan proyek migas berpotensi terganggu lantaran ada pergantian kru dan pasokan logistik. Kendati demikian pihaknya akan terus melakukan koordinasi intensif demi memitigasi adanya potensi keterlambatan proyek. Bahkan ia bilang beberapa proyek telah beroperasi.

    "Dari 12 proyek di 2020 ini sudah ada empat, proyek yang onstream, semuanya sesuai dengan adwal. Semoga bisa lancar yang lainnya," ujar Julius.

    Dari empat proyek ini, tiga di antaranya memang dijadwalkan beroperasi di kuartal pertama 2020 yakni Proyek Grati Pressure Lowering berkapasitas 30 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/mmscfd) oleh Ophir Indonesia (Sampang) Pty Ltd, dan Buntal-5 45 mmscfd oleh Medco E&P Natuna Ltd.

    Kemudian, Sembakung Power Plant oleh PT Pertamina EP. Sementara satu proyek lagi justru selesai lebih cepat dari rencana yang seharusnya pada kuartal kedua yaitu Proyek Randu Gunting dengan perkiraan produksi 3 mmscfd oleh PT Pertamina Hulu Energi Randu Gunting.

    Selain itu, terdapat delapan proyek lain yang direncana beroperasi tahun ini. Pada kuartal pertama ini, Bukit Tua Phase-3 dengan estimasi produksi 31,5 mmscfd oleh Petronas Carigali Ketapang II Ltd direncanakan mulai operasi.

    Selanjutnya, tiga proyek akan beroperasi di kuartal kedua, yakni Kompresor Betung 15 mmscfd oleh PT Pertamina EP, Malacca Strait Phase-1 3.000 bph oleh EMP Mallacca Strait, serta Meliwis 20 mmscfd oleh Ophir Indonesia (Madura Offshore) Pty Ltd.

    Di kuartal ketiga 2020 terdapat tiga proyek migas yang dijadwalkan beroperasi. Ketiga proyek ini adalah Proyek Cantik 2,4 mmscfd oleh PT Sele Raya Belida, Kompresor LP-MP SKG-19 150 mmscfd oleh PT Pertamina EP, serta Peciko 8A 8 mmscfd oleh PT Pertamina Hulu Mahakam.

    Terakhir, Proyek Merakes oleh ENI Indonesia dijadwalkan mulai produksi di kuartal keempat 2020. Di Lapangan Merakes, ENI rencananya akan mengebor enam sumur bawah laut serta membangun sistem pipa bawah laut yang akan terhubung dengan fasilitas produksi terapung (floating production unit/FPU) Jangkrik di Blok Muara Bakau.

    Puncak produksi Lapangan Merakes diperkirakan bisa mencapai 60.305 barel setara minyak per hari (barrel oil equivalent per day/boepd).

    Pada 2020, lifting migas nasional dipatok 1,95 juta barel setara minyak per hari (barrel oil equivalent per day/boepd), naik tipis dari realisasi tahun lalu 1,8 juta boepd. Rincinya, produksi minyak naik menjadi 755 ribu bph dari realisasi 746 ribu bph, serta gas menjadi 1,19 juta boepd dari realisasi 1,06 juta boepd.

    Selain itu, Julius membantah adanya penundaan proyek Kilang Tanggung Train-3 akibat korona. Ia bilang hingga saat ini belum ada dampak covid-19 terhadap proyek tersebut. "Masih ditargerkan beroperasi pada kuartal ketiga 2021," tutur dia.

    Proyek Train-3 menambahkan satu unit kilang atau train di Kilang Tangguh. Proyek ini juga akan menambahkan dua anjungan lepas pantai, 13 sumur produksi baru, dermaga pemuatan LNG baru, dan infrastruktur pendukung lainnya. Nilai investasi Kilang LNG Tangguh Train-3 mencapai USD8 miliar.

    Sebanyak 75 persen produksi LNG dari Kilang Tangguh Train-3 dijual ke PT PLN (Persero). PLN nantinya akan menerima 688 kargo dari Kilang LNG Tangguh selama 2016-2033, yakni sebanyak 12 kargo pada 2016, 20 kargo per tahun selama 2017-2019, dan 44 kargo pada periode 202-2033. Pembeli LNG lainnya yakni Kansai Electric Power Company sebesar satu juta ton per tahun.

    Saat ini Kilang Tangguh terdiri dari dua unit kilang dengan kapasitas masing-masing 3,8 juta ton per tahun. Jika Train-3 rampung, maka kapasitas Kilang Tangguh akan mencapai 11,4 juta ton per tahun.

    BP memegang 37,16 persen saham di proyek tersebut. Mitra-mitra kontrak Tangguh lainnya adalah MI Berau B.V (16,30 persen), CNOOC Muturi Ltd (13,90 persen), Nippon Oil Exploration (Berau), Ltd (12,23 persen), KG Berau/KG Wiriagar (10,00 persen), Indonesia Natural Gas Resources Muturi Inc (7,35 persen), dan Talisman Wiriagar Overseas Ltd (3,06 persen).



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id