comscore

Logistik dan Tren Berbagi di Tengah Pandemi

Desi Angriani - 28 Desember 2020 12:42 WIB
Logistik dan Tren Berbagi di Tengah Pandemi
Ilustrasi layanan pengiriman barang melalui JNE sebelum pandemi - - Foto: dok MI
Jakarta: Pandemi covid-19 tak hanya memberikan tekanan ekonomi bagi masyarakat dan negara tapi juga berdampak psikologis.

Biasanya orang-orang bersosialisasi di lingkungan kerja, sekolah, dan tempat umum. Namun kebijakan social distancing mengharuskan mereka untuk bekerja dan beraktivitas di rumah saja.
Hal ini justru menciptakan tren baru yakni munculnya kebiasaan saling berbagi paket makanan maupun produk kesehatan. Bahkan, banyak orang berdonasi dan mengumpulkan bantuan bagi tenaga medis yang berjibaku di garis terdepan dalam penanganan covid-19.

Karena itu, masyarakat sangat bergantung akan kehadiran jasa ekspedisi sebagai sarana pengantaran barang selama pandemi. Rani, 28, menggunakan layanan PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) untuk mengirimkan masker, hand sanitizer, obat-obatan, dan makanan ringan kepada keluarganya yang berada di Sumatra.
 
Karyawan swasta yang menetap di Ibu Kota ini menyebut biaya pengiriman barang melalui JNE lebih murah yakni sebesar Rp100 ribu dengan berat barang maksimal 16 kilogram (kg). Meski durasi pengiriman barang tersebut membutuhkan waktu dua minggu. Ternyata paket tersebut sampai ke tangan orangtua Rani dalam waktu satu pekan atau lebih cepat dari jadwal yang ditetapkan. Hal tersebut membuat Rani betah menggunakan layanan JNE.
 
"Saya suka mengirim paket dengan berat 10 kg untuk keluarga saya yang isinya makanan ringan, obat-obatan, masker hingga hand sanitizer. Biaya pengiriman di JNE murah dan ternyata sampai ke tujuan lebih cepat dari yang dijadwalkan," ungkapnya kepada Medcom.id, Jumat, 25 Desember 2020.

Logistik dan Tren Berbagi di Tengah Pandemi
Berbagi kebahagiaan di tengah pandemi - - Foto: dok pribadi

Lain cerita dengan Dian, 25, ia berbagi kebahagiaan dengan mengirimkan produk kecantikan atau skincare kepada teman-temannya yang bekerja dari rumah atau work from home.

Ia memesan produk tersebut melalui platform belanja online dengan memilih ekspedisi JNE lantaran biaya yang terjangkau dan pengirimannya tepat waktu.

"Karena bekerja dari rumah, ini bisa jadi momen untuk merawat diri. Jadi saya kirim skincare biar teman-teman kantor betah dan semangat kerja," kata Dian kepada Medcom.id.

Logistik dan Tren Berbagi di Tengah Pandemi
Berbagi kebahagiaan di tengah pandemi - - Foto: dok pribadi


Tren berbagi di tengah pandemi ini sejalan dengan langkah JNE yang mengusung tagline #connecting happiness. Sebagai jasa ekspedisi yang sudah 30 tahun berdiri, JNE ingin mengantarkan kebahagiaan bagi masyarakat Indonesia dalam arti luas.

Direktur JNE Muhammad Feriadi mengatakan JNE menggratiskan pengiriman logistik untuk penanganan covid-19 sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintah. Hingga kini lebih dari 20 ton kebutuhan alat medis berupa alat pelindung diri (APD) dan masker sudah dikirimkan ke seluruh Indonesia.

"Bukan hanya tentang pengiriman paket, namun dalam berbagai aspek di setiap kehidupan masyarakat. Hal ini karena empat sektor, yaitu SDM, infrastruktur, teknologi informasi, dan lingkungan sekitar, menjadi perhatian utama perusahaan," ujarnya dalam acara HUT #JNEke-30 secara virtual Minggu, 29 November 2020 lalu.

JNE juga mendistribusikan sebanyak 36.049 ton beras bantuan ke wilayah DKI Jakarta, Kepulauan Seribu serta Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) bagi masyarakat yang terdampak pandemi covid-19.

"Ini merupakan komitmen JNE untuk terus mengantarkan kebahagiaan, sesuai tagline connecting happiness, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat Indonesia, khususnya di tengah pandemi ini," tambah Feri.

Selain bekerja sama dengan pemerintah, #JNE juga menggratiskan penyaluran bantuan melalui Yayasan Media Group. Pengiriman APD dan beberapa keperluan lain untuk tenaga medis di 10 RSUD se-Pulau Jawa, yang masuk zona merah penyebaran covid-19 digratiskan.

"Insyallah Media Group dan JNE yang bergerak di bidang bisnis namun tetap bergerak di bidang kemanusiaan. Kami mempunyai visi yang sama yaitu saling membantu sesama manusia. Saya yakin kita tetap bisa kerja sama sampai semua bisa terselesaikan dengan baik," ucap Ketua Yayasan Media Group, Ali Sadikin, di RSUD Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat, 18 Desember 2020.

Logistik dan Tren Berbagi di Tengah Pandemi
Yayasan Media Grup bersama JNE memberikan bantuan di RSUD Kota Bogor, Jawa Barat - - Foto: Medcom.id

Pandemi dorong jasa kurir percepat transformasi digital

Di saat sektor lain terpuruk, bisnis logistik dan layanan pengiriman barang meningkat tajam di masa pandemi. Hal ini seiring perubahan pola belanja masyarakat dari luring menjadi daring. Perubahan kebiasaan itu terekam dalam survei Mckinsey. Tercatat, sebanyak 34 persen masyarakat Indonesia makin sering berbelanja makanan secara online, dan 30 persen lainnya berbelanja kebutuhan pokok via daring.

Data Kementerian Keuangan menyebutkan segmen logistik relatif stabil selama pandemi covid-19. Bahkan, transaksi pembelian lewat e-commerce meningkat 18,1 persen menjadi 98,3 juta transaksi dengan total nilai transaksi naik 9,9 persen menjadi Rp20,7 triliun.
 
Hal ini mendorong jasa ekspedisi untuk mempercepat transformasi digital. Feri mengatakan JNE sudah meninggalkan pola manual dan beralih menggunakan sentuhan digital agar menjadi lebih kompetitif. Ia meluncurkan aplikasi dan menerapkan sistem notifikasi untuk setiap pengiriman dari JNE.

"Begitu banyak dari eksternal dan internal kita melihat perubahan begitu cepat karena teknologi yang berkembang. Kalau kita tidak berubah kita ditinggal pelanggan. Kalau eksternal misalnya pemerintah buat aturan yang tidak memperhatikan kami sebagai pelaku," terang dia.

Meski demikian, JNE tetap menerapkan protokol kesehatan terhadap semua barang dan antaran paket demi mencegah penyebaran covid-19. Para pekerja diwajibkan mengenakan masker serta melakukan desinfektan secara teratur terhadap semua barang.

VP of Marketing JNE Eri Palgunadi menambahkan JNE berhasil mencatat pertumbuhan sebesar 30 persen sepanjang semester I-2020. Rata-rata pengiriman via JNE per hari mencapai satu juta dan bisnis jasa ekspedisi tersebut konsisten tumbuh di atas 30 persen meski diterpa pandemi.

"Terjadinya perubahan daya beli masyarakat yang berubah drastis di masa pandemi dari offline ke online untuk menghindari dan memutus mata rantai covid-19 sehingga tumbuhnya optimisme industri logistik untuk tetap menopang perekonomian masyarakat," kata Eri, 23 November 2020.

Adapun 70 persen pendapatan JNE berasal dari sektor ritel. Sisanya, disokong oleh korporat. Dari 70 persen pendapatan ritel itu, separuhnya bersumber dari transaksi e-commerce.

Bila melihat sebaran wilayah, transaksi terbesar masih berada di Jabodetabek lantaran didukung populasi yang padat. Sekitar 50 sampai 60 persen aktivitas pengiriman barang terjadi di wilayah tersebut, sisanya berasal dari luar Jabodetabek.

Berdasarkan hasil penelitian Ernst & Young, bisnis e-commerce diperkirakan meningkat 10 kali lipat dari 2015 hingga 2020 dengan proyeksi angka Rp1.800 triliun. Hal tersebut dapat menjadi potensi besar bagi pengusaha jasa pengiriman barang apabila disertai dengan sistem yang kuat.

Karenanya, pengiriman logistik e-commerce memerlukan strategi kolaborasi antarpengusaha agar pelayanan menjadi lebih baik terutama untuk Indonesia yang merupakan negara kepulauan. 

(Des)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id