'Curhat' Freeport tentang Tantangan Bangun Smelter

    Suci Sedya Utami - 15 Oktober 2020 08:24 WIB
    'Curhat' Freeport tentang Tantangan Bangun <i>Smelter</i>
    Tambang Freeport. FOTO: MI AGUS MULYAWAN
    Jakarta: PT Freeport Indonesia (PTFI) mengungkapkan tantangan pembangunan fasilitas pemurnian dan pengolahan atau smelter di era saat ini sehingga progresnya baru mencapai 5,86 persen.

    Selain terdampak pandemi covid-19 yang tengah merebak, Presiden Direktur PTFI Clayton Allen Wenas membandingkannya dengan pembangunan smelter saat 1997 yang hanya membutuhkan dua tahun untuk menyelesaikannya pembangunan PT Smelting di Gresik bersama Mitsubishi sebagai kewajiban dari Kontrak Karya (KK).

    Ia bilang 23 tahun silam pembangunan smelter tembaga masih sangat menjanjikan mengingat kapasitas smelter di dunia belum seperti saat ini. Di era tersebut nilai Treatment Charge and Refining Charge (TCRC) dari pengolahan konsentrat sekitar USD0,28 per pound dengan harga tembaga pada kisaran USD1,03 per pound.

    "Setelah PT Smelting beroperasi dan berekspansi dalam lima tahun, kemudian Tiongkok ramai bangun smelter. Ini lah mulai terjadi over capacity dari smelter," ujar Tony, dalam webinar 'Masa Depan Hilirisasi Tembaga Indonesia', Rabu, 14 Oktober 2020.

    Ia mengatakan dengan makin banyaknya pembangunan smelter tembaga di Tiongkok membuat nilai TCRC jatuh kendati harga tembaga terus meningkat. Sebagai perbandingan harga tembaga saat ini sudah mencapai USD3 per pound sementara TCRC tetap dikisaran USD0,18 per pound.

    Kondisi TCRC itu yang membuat pembangunan smelter yang tengah digarap Freeport di Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur tidak menguntungkan. Ia mengatakan level yang aman dengan investasi sekitar USD3 miliar untuk membangun smelter saat ini maka paling tidak TCRC yang dibutuhkan pada level USD0,52 per pound.

    Menurut Tony terdapat selisih antara biaya operasi smelter dan TCRC sebesar USD0,26 per pound atau setara dengan kerugian USD300 juta per tahun. "TCRC merupakan pendapatan utama sehingga biaya operasi harus lebih rendah dari TCRC baru bisa untung," ujar Tony.

    Selain itu, produk yang dihasilkan setelah melalui proses di smelter hanya memberi nilai tambah lima persen. Dipaparkan Tony konsentrat tembaga yang dihasilkan Freeport telah memiliki nilai tambah yang besar yakni 90-95 persen. Ia bilang konsentrat tembaga memiliki karakter yang khas dibandingkan dengan konsentrat mineral lainnya seperti bauksit atau nikel.
     
    Menurut dirinya, penambahan nilai tersebut yang  harus dihitung, apakah sepadan dengan nilai investasi yang dikeluarkan untuk proses hilirisasi. Namun demikian, sebagai bentuk komitmen dan juga mandat dan amanat UU maka PTFI tetap berkomitmen untuk membangun smelter tersebut.
     
    "Walaupun pembangunan smelter bukan proyek yang menguntungkan, terlepas dari itu komitmen kami tetap membangun smelter itu," pungkas dia.

    (ABD)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id