Gali Lubang Tutup Lubang, Legislator Cecar Inalum

    Suci Sedya Utami - 30 Juni 2020 18:40 WIB
    Gali Lubang Tutup Lubang, Legislator Cecar Inalum
    Direktur Utama Mind Id Orias Petrus Moedak - - Foto: Medcom/ Annisa Ayu
    Jakarta: Anggota Komisi VII DPR RI mencecar PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) atau Mining Industry Indonesia terkait penerbitan obligasi untuk membayar utang yang diterbitkan dalam rangka membeli saham PT Freeport Indonesia (PTFI).

    Inalum mesti merogoh USD3,85 miliar ketika membeli Freeport. Anggaran untuk membeli saham perusahaan tambang tersebut berasal dari penerbitan utang sebesar USD4 miliar dengan tenor 3,5,10 dan 30 tahun.

    Direktur Utama Inalum Orias Petrus Moedak mengatakan pandemi covid-19 membuat Inalum mengalami kesulitan di sisi keuangan. Hal ini berimbas pada pembayaran utang yang memiliki tenor tiga dan lima tahun atau jatuh tempo pada 2021 dan 2021. Karenanya Inalum menerbitkan kembali obligasi senilai USD2,5 miliar di Mei lalu.


    "Jadi kami segera masuk ke pasar kemarin untuk melakukan refinancing dari yang akan jatuh tempo 2021 dan 2023. Kami terbitkan USD2,5 miliar. USD1 milar kami pakai untuk bayar setengah utang jatuh tempo 2021 dan utang 2023," kata Orias dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa, 30 Juni 2020.

    Menanggapi penerbitan obligasi lanjutan itu, Anggota Komisi VII Fraksi Partai Demokrat M Nasir pun angkat bicara. Menurutnya langkah gali lobang tutup lobang dengan utang merupakan cara yang salah. Sebab, utang sebelumnya yang belum lunas tapi perusahaan kembali menambah utang.

    "Ini pekerjaan konyol sebenarnya. Ini bapak cerita soal utang lagi, utang yang lama saja ribet kita hitungnya, eh ini utang lagi, yang mau bayar siapa? Kan gila ini jadinya," kata Nasir.

    Nasir menyebut jika Inalum tidak mampu membayar utang, tiga anak usaha di bawahnya berpotensi digadaikan. Ia pun tidak puas dengan semua penjelasan, dan mengancam Dirut Inalum.

    "Kalau bapak sekali lagi begini, saya suruh bapak keluar ruangan ini," ancam Nasir.

    Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VII Fraksi Gerindra Ramson Siagian mempertanyakan beban utang perusahaan dengan adanya penambahan serta cost of fun atau beban biayanya.

    Dirut Inalum menjawab adanya tambahan utang USD2,5 miliar maka beban utang pokok Inalum menjadi USD5,5 miliar. Jumlah tersebut terdiri dari USD4 miliar penerbitan ketika divestasi Freeport serta USD1,5 miliar dari USD2,5 miliar penerbitan baru.  

    Sebab sisa USD1 miliar dari USD2,5 miliar obligasi baru merupakan buyback terhadap pinjaman yang akan jatuh tempo yang dilakukan Inalum untuk memperpanjang tenor pinjaman.

    Sementara untuk cost of fund, penerbitan utang baru menjadi lebih murah sekitar 0,7 persen dari sebelumnya.  Sehingga secara cash flow, pembayaran bunga utang rata-rata 4,75 persen.

    "Kita lakukan penawaran pada pemegang obligasi lama untuk menjual obligasi lama. Jadi kami beli balik obligasi yang lama, ditukar dengan yang tenornya lebih panjang supaya kita nggak ada tekanan dari sisi cash flow, yang berhasil ditukar USD1 miliar," tutur Orias.




    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id