comscore

Bangun Smelter Nikel, CNI Group Dikucuri Pembiayaan USD277,6 Juta

Ade Hapsari Lestarini - 11 April 2022 12:06 WIB
Bangun <i>Smelter</i> Nikel, CNI Group Dikucuri Pembiayaan USD277,6 Juta
Menteri ESDM Arifin Tasrif. Foto: dok CNI Group.
Jakarta: Pemerintah dan perbankan Indonesia mendukung penuh investasi pabrik pengolahan (smelter) nikel yang dibangun oleh PT Ceria Nugraha Indotama Group (CNI Group) melalui anak usahanya PT Ceria Metalindo Prima (CMP). Hal ini sejalan dengan cita-cita Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam mempercepat hilirisasi industri nikel melalui Proyek Strategis Nasional (PSN).

Dukungan nyata pemerintah dan perbankan tersebut diwujudkan melalui pemberian fasilitas pembiayaan term loan senilai USD277,6 juta untuk pembangunan line I fasilitas pengolahan bijih nikel laterit Rectangular Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) 1 x 72 MVA di Blok Lapao-pao, Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Pembiayaan ini dikucurkan oleh sindikasi perbankan yang terdiri dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJB), dan PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Bank Sulselbar).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia Arifin Tasrif mengatakan, sesuai amanah Undang-Undang Mineral dan Batubara (Minerba), pemerintah berkomitmen untuk mendorong dan mempercepat hilirisasi industri nikel di Indonesia agar menghasilkan nilai tambah, salah satunya melalui pembangunan smelter.

"Selama ini kita selalu kehilangan kesempatan untuk memperoleh nilai tambah dari pengelolaan nikel kita. Ada banyak kendala yang kita hadapi dalam mempercepat hilirisasi, mulai dari teknologi yang masih terbatas dan pendanaan yang tidak tersedia, sehingga kita menjual bahan mentah. Namun dengan implementasi UU Minerba, hilirisasi ini telah memberikan perubahan, dimana nilai tambah dari ekspor nikel sudah mencapai USD20 miliar, jauh berbeda jika dibandingkan dengan ekspor material mentah," kata Arifin dalam Penandatanganan Perjanjian Pembiayaan Smelter PT Ceria Metalindo Prima (CMP), dikutip Senin, 11 April 2022.

Nikel berkontribusi ke pertumbuhan ekonomi


Menurut Arifin, komoditi nikel memberikan prospek besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selain untuk dikonsumsi di dalam negeri, produk nikel juga sangat penting untuk industri baja. Di lain pihak, komoditi nikel juga sangat penting dalam mempercepat transisi energi, utamanya dalam mendukung industri baterai dan kendaraan listrik.

"Ini tentu menjadi nilai strategis bagi Indonesia. Karena itu saya meminta CNI Group untuk mengembangkan hilirisasisi berbagai produk lain secara global," imbuhnya.

Arifin menjelaskan, dukungan pendanaan oleh perbankan terhadap proyek smelter CNI Group ini menjadi salah satu inisiatif Kementerian ESDM selama ini untuk membantu proyek-proyek smelter di Indonesia yang mengalami kendala.

Berdasarkan catatan Arifin, jumlah proyek yang menunjukkan kemajuan kurang menggembirakan sempat mencapai 57 proyek pada beberapa waktu lalu. "Namun melalui inisiatif yang dilakukan Kementerian ESDM, jumlah proyek smelter yang mandek kini telah berkurang dari semula 57 smelter menjadi 12 smelter yang terdiri dari delapan smelter nikel, tiga smelter bauksit, dan satu smelter mangan," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Darmawan Junaidi mengatakan, pihaknya bangga dapat mendukung pembiayaan pembangunan line I smelter nikel laterit RKEF milik PT Ceria Metalindo Prima ini. Pasalnya, kerja sama ini sangat spesial karena menjadi tonggak sejarah bukan hanya bagi Ceria Nugraha Indotama (CNI Group), namun juga bagi Bank Mandiri.

Menurut Darmawan, kesepakatan pembiayan tersebut menjadi bukti komitmen Bank Mandiri dalam mendukung Proyek Strategis Nasional (PSN). CNI Group dan Bank Mandiri merancang skema pembiayaan secara project finance, yang juga merupakan project pembiayaan, Bank Mandiri menjadi Structuring dan Coordinating Bank.

"Kita patut berbangga, saat ini Indonesia menjadi negara penghasil nikel terbesar di dunia. Karena itu, kami mengapresiasi atas kerja sama bank sindikasi dengan pihak Ceria Metalindo Prima dan semoga ini berjalan baik dan dapat menjadi katalis pertumbuhan ekonomi, memberikan nilai tambah bagi industri di dalam negeri, serta membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat," imbuhnya.

Presiden Direktur Utama CNI Group Derian Sakmiwata mengapresiasi atas kepercayaan ketiga bank tersebut untuk mendanai proyek smelter CMP. Menurut Derian, dukungan pendanaan ini menjadi sejarah bagi Indonesia, CNI Group yang merupakan Perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) untuk pertama kalinya mendapat dukungan pendanaan dari perbankan milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

"Ini tentu menjadi milestone bagi CNI Group. Ini pertama kali dalam pembiayaan smelter di Indonesia melalui skema transaksi project finance bank nasional. Ini membuktikan industri anak bangsa bisa bangkit dengan dukungan pendanaan dari BUMN dan BUMD," ungkap Derian.

Dengan dukungan pembiayaan sindikasi senilai USD277,6 juta ini kata Derian, memberikan kepastian pencapaian target operasi tahap pertama smelter bijih nikel laterit RKEF CMP dengan kapasitas 63 ribu ton feronikel dengan kandungan nikel 22 persen atau setara dengan 13.900 ton nikel per tahun dengan total nilai proyek line I senilai USD347 juta.
 







Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id