PHRI: Imbas Korona, Okupansi Hotel hanya 30%

    Husen Miftahudin - 12 Maret 2020 19:39 WIB
    PHRI: Imbas Korona, Okupansi Hotel hanya 30%
    Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani. Foto: Medcom.id/Suci Sedya Utami.
    Jakarta: Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengatakan virus korona telah menyeret kinerja industri pariwisata Tanah Air. Bisnis hotel dan restoran pun turut terdampak imbas covid-19 tersebut.

    Berdasarkan catatan PHRI, tingkat keterisian atau okupansi hotel di Jakarta saat ini hanya 30 persen. Bahkan daerah wisata seperti di Bali rata-rata tingkat okupansinya hanya 20 persen.

    "Kalau (okupansi) sudah 30 persen atau kurang, karyawan pasti digilir masuknya. Tapi PHK (Pemutusan Hak Kerja) belum," ujar Hariyadi dalam konferensi pers di sebuah restoran Jakarta Pusat, Kamis, 12 Maret 2020.

    Rendahnya tingkat okupansi membuat para pelaku usaha hotel tidak menggunakan pekerja harian atau daily worker. Sementara, jam kerja karyawan kontrak dan tetap dikurangi.

    Karyawan berstatus kontrak dan tetap bekerja bergiliran. Imbasnya, upah yang mereka terima tidak penuh sebagaimana biasanya.

    "Karena perusahaan juga harus mengatur cash flow (arus kas). Kita atur (jam kerja karyawan). Hanya saja, karyawan tidak menerima gaji full," ungkapnya.

    Hariyadi menyebutkan saat ini pengusaha hotel terpaksa memangkas sejumlah anggaran pengeluaran. Salah satunya memangkas 50 persen biaya tenaga kerja.

    "Sekarang perusahaan coba jaga dengan menurunkan 50 persen biaya tenaga kerja," tutur Hariyadi.

    Di sisi lain, pendapatan industri secara keseluruhan berpotensi lenyap sebanyak USD1,5 miliar atau setara Rp21,75 triliun (kurs Rp14.500/USD).

    Hariyadi menjelaskan, potensi lenyapnya devisa di sektor pariwisata berdasarkan jumlah turis asal Tiongkok yang datang ke Indonesia pada tahun lalu sebanyak dua juta kunjungan. Setiap turis asal Negeri Tirai Bambu itu diasumsikan mengeluarkan biaya travelling sebanyak USD1.100 atau sekitar Rp15,95 juta per kunjungan.

    "Kita ambil separuhnya saja karena peak season dari Tiongkok itu Januari-Februari pada saat Imlek. Mulai dari awal Februari itu enggak ada pesawat dari Tiongkok ke sini. Itu baru asumsi yang hilang separuhnya, sekitar USD1,1 miliar (setara Rp15,95 triliun)," ungkapnya.

    Kondisi pemberhentian sementara penerbangan dari dan menuju Tiongkok ke Indonesia juga berimbas pada pembatalan penerbangan negara-negara lain, termasuk penerbangan domestik. Kondisi tersebut diperkirakan melenyapkan potensi pemasukan industri penerbangan sebanyak USD400 juta atau sekitar Rp5,8 triliun.

    "Jadi paling tidak (potential lost devisa) itu USD1,5 miliar sudah terjadi untuk sektor pariwisata," lugas Hariyadi.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id