Kebijakan Harga Gas Bumi Rugikan Investor PGN

    Rendy Renuki H - 13 April 2021 18:15 WIB
    Kebijakan Harga Gas Bumi Rugikan Investor PGN
    Ilustrasi PGN (MI/Galih)



    Jakarta: Kinerja PT Perusahaan Gas Negara (PGN) memburuk selama 2020 karena pandemi Covid-19. Selain itu, kebijakan pemerintah menetapkan harga gas bumi UDS6 per mmbtu juga ikut mempengaruhi kinerja PGN.

    Pasalnya, harga tersebut diperuntukkan kepada industri tertentu sejak April 2020, dan menyerap 70 persen gas yang dialokasikan PGN. Hal itu yang membuat PGN menanggung kerugian hingga USD100 juta lebih dari Rp1,4 triliun, akibat harga gas USD6 selama 2020.

     



    "Masuk akal jika kerugian PGN akibat harga gas USD6 bisa mencapai USD100 juta. Karena mayoritas pengguna gas PGN adalah penerima manfaat harga gas USD6  itu," kata analis Finvesol Consulting Fendi Susiyanto, dalam keterangan tertulisnya, Selasa 13 April 2021. 

    "Sementara pemerintah tidak memberikan insentif ataupun subsidi sesuai yang diamanatkan dalam regulasi. Situasi sangat merugikan PGN, termasuk investornya di pasar modal," lanjutnya.

    Dia mengatakan, dari kaca mata investor, salah satu hal penting yang menjadi dasar mengambil keputusan investasi saham adalah melihat model bisnis dengan potensi margin yang menguntungkan. Hal itu menjadi faktor pendorong nilai perusahaan akan meningkat jangka panjang. 

    Secara model bisnis, PGN sebenarnya merupakan emiten dengan fundamental dan prospek yang menarik. Sebagai inisiator dan pengembang infrastruktur gas bumi, PGN memegang lebih dari 80 persen jaringan gas bumi di seluruh Indonesia.

    Namun dari total produksi gas nasional sebanyak 6.889 BBTUD, PGN mentransportasikan gas sebesar 1.930 BBTUD, sekitar 28 persen dan baru mengalirkan niaga gas sekitar 900 BBTUD atau sekitar 15 persen.

    Sayangnya, PGN mendapatkan perlakuan berbeda dibandingkan BUMN lainnya. Dengan komponen harga jual dipatok USD6, sementara komponen biaya realitasnya lebih tinggi, tanpa memperoleh subsidi maka kerugian sulit untuk dihindari.

    "Dengan membuat kebijakan harga gas USD6 dan tidak memberikan dukungan pendanaan, pemerintah sebenarnya tidak menginginkan gas bumi ini membesar. Karena sulit bagi PGN untuk terus membangun infrastruktur jika margin bisnisnya sudah dibatasi," tegas Fendi.   

    Sepanjang 2020 PGN mencatat kerugian bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai USD264,77 juta (sekitar Rp3,84 triliun jika USD1=Rp14.500). Kerugian itu terutama disebabkan keputusan kasasi Mahkamah Agung (MA) atas sengketa pajak 2012-2013 yang menetapkan PGN harus membayar beban pajak sebesar USD278,4 juta.

    Sebelumnya di pengadilan pajak dan banding, PGN memenangkan perkara ini. Beban besar lainnya adalah penurunan (impairment) aset minyak dan gas senilai USD78,9 juta. 

    Direktur Keuangan PGN Arie Nobelta Kaban menjelaskan, pada 2020 PGN membukukan pendapatan senilai USD2,88 miliar, atau turun 25,02 persen dari realisasi pendapatan 2019 yang mencapai USD3,85 miliar.

    Di tengah berbagai tekanan bisnis, PGN berhasil menurunkan biaya operasional atau opex sebesar USD180,4 juta. Manajemen juga berhasil memangkas pengeluaran modal (capital expenditure), salah satunya pada pembangunan pipa minyak Rokan, sebesar USD150 juta atau setara dengan Rp2,1 triliun.

    "Posisi keuangan PGN cukup baik, dengan total aset sebesar USD7,53 miliar. Aset tersebut termasuk kas dan setara kas sebesar USD1,18 miliar," jelas Arie melalui rilis resmi perusahaan.

    Secara umum, Fendi menghitung, harga saham berkode PGAS ini secara fundamental dari price to value bagus sekali. Namun dari price to earning ratio justru negatif.

    Ini menunjukkan secara fundamental kuat, tapi ada dua faktor utama yang menjadi value destroyer bagi saham PGAS saat ini. Pertama, margin bisnis yang terbatas karena harga jual dipatok USD6, kedua adalah sengketa kasus putusan PPN gas bumi dengan DJP. 

    "Investor pasar modal menunggu kejelasan dari skema kompensasi bagi PGAS dari pemerintah. Hal ini sangat dibutuhkan untuk menjadi game changer atas kinerja keuangan perseroan ke depan," pungkas Fendi.

    (ACF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id