5 Stimulus Demi Dukung Target Produksi Minyak Satu Juta Barel

    Suci Sedya Utami - 02 Desember 2020 21:35 WIB
    5 Stimulus Demi Dukung Target Produksi Minyak Satu Juta Barel
    Ilustrasi blok migas. Foto: SKK Migas
    Jakarta: Pemerintah memberikan lima stimulus fiskal untuk mendorong pencapaian target peningkatan produksi minyak sebesar satu juta barel per hari (bph) pada 2030. Pemberian stimulus ini diluncurkan dalam acara International Convention on Indonesian Upstream Oil & Gas (IOG 2020).

    Dengan adanya stimulus ini, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) berharap bisa meningkatkan iklim investasi industri hulu migas di Tanah Air.

    "Pemberlakuan paket kebijakan ini saya kira memperjelas sikap pemerintah Indonesia dalam mendukung transformasi industri hulu migas untuk mencapai target jangka panjang yang memang sangat kita butuhkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang,” kata Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto, Rabu, 2 Desember 2020.

    Deputi Keuangan SKK Migas Arief S. Handoko pada kesempatan sama merinci lima stimulus tersebut. Pertama, penundaan pencadangan biaya kegiatan pasca operasi atau Abandonment and Site Restoration (ASR).

    Pandemi covid-19 telah membuat sektor migas melemah. Dampak yang ditimbulkan dari pandemi tersebut telah memaksa perusahaan-perusahaan migas untuk mengatur kembali strategi anggarannya.

    "Menyikapi kondisi yang ada, SKK Migas menunda sementara pembayaran pencadangan biaya kegiatan pasca operasi 2020," kata Arief.

    Kedua, pengecualian pajak pertambahan nilai (PPN) gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) melalui penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 48 Tahun 2020 tentang impor dan atau penyerahan barang kena pajak tertentu yang bersifat strategis yang dikecualikan dari PPN.

    Ketiga, pembebasan biaya sewa barang milik negara yang akan digunakan untuk kegiatan hulu migas. Keempat, penerapan diskon harga gas untuk volume penjualan di atas kontrak atau take or pay dan daily contract quantity.

    Ia bilang, untuk menyikapi kondisi ekonomi global yang melemah saat ini, maka diperlukan fleksibilitas dalam perjanjian penjualan gas jangka panjang dengan menerapkan potongan harga gas tersebut. Kebijakan ini terutama diberlakukan pada kontrak gas yang tidak memiliki pembeli alternatif.

    Kelima, penerapan insentif investasi seperti depresiasi dipercepat, perubahan split sementara serta domestic market obligation (DMO) harga penuh.

    "Kami menyampaikan terima kasih atas dukungan pemerintah, di mana dengan adanya kebijakan fiskal tersebut diharapkan dapat membantu usaha peningkatan produksi untuk mendukung keberlanjutan energi kita, utamanya pencapaian target produksi satu juta barel minyak per hari dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (BSCFD) pada 2030," pungkas Arief.

    Lebih lanjut, Arief menambahkan pihaknya juga masih berharap agar pemerintah melalui Kementerian Keuangan dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melanjutkan dukungan dengan memberikan empat stimulus lainnya yakni tax holiday atau pembebasan pajak penghasilan di seluruh wilayah kerja migas, menghapuskan biaya pemanfaatan Kilang LNG Badak USD0,22 per million british thermal unit (MMBTU), penundaan atau pengurangan pajak tidak langsung hingga 100 persen, serta dukungan kementerian dan lembaga lainnya yang membina industri pendukung hulu migas. 

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id