Mengangkat Kearifan Lokal Bernilai Ekonomi di Tengah Pandemi

    Suci Sedya Utami - 20 Oktober 2020 08:50 WIB
    Mengangkat Kearifan Lokal Bernilai Ekonomi di Tengah Pandemi
    PT Pertamina Gas (Pertagas) turun tangan memperbaiki ekonomi masyarakat, terutama yang berada di wilayah operasinya melalui program CSR. FOTO: Pertagas
    Jakarta: Merebaknya coronavirus disease 2019 (covid-19) di Indonesia sejak Maret silam membuat sendi-sendi perekonomian di seluruh wilayah Tanah Air melemah. Pasalnya, banyak kegiatan masyarakat yang terdampak kehadiran pandemi global itu.

    Enggan terjerembab lebih dalam akibat pandemi, PT Pertamina Gas (Pertagas) turun tangan memperbaiki ekonomi masyarakat, terutama yang berada di wilayah operasinya. Berbalut program tanggung jawab sosial (CSR) yang tahun ini dialokasikan sebesar Rp2 miliar, Pertagas mencoba mengembangkan potensi ekonomi berbasis kearifan lokal (local wisdom).

    Pemetaan sosial dilakukan perusahaan di masing-masing wilayah operasi untuk mengetahui potensi daerah yang bisa digali dan menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar. Setidaknya, di masa pandemi ini, pemetaan yang dilakukan membuahkan hasil berupa terbentuknya empat kelompok masyarakat baru.

    Manager Communication, Relation dan CSR Pertagas Zainal Abidin mengatakan empat kelompok tersebut yaitu Kelompok Wanita Tani Kenanga di Karawang, Kelompok Tani Saluyu di Cilamaya, Kelompok Pengolah Sampah Budidaya Maggot Black Soldier Fly di Sidoarjo, dan Kelompok Masyarakat OMaGat di Banyuasin.

    Mengangkat Kearifan Lokal Bernilai Ekonomi di Tengah Pandemi
    Kandang Budidaya Maggot Black Soldier Fly (BSF). FOTO: Pertagas


    Bergabungnya empat kelompok baru tersebut menambah daftar kelompok penerima manfaat yang didampingi PGN dalam mengembangkan potensi daerahnya menjadi 24 kelompok. "Jadi kita menentukan berdasarkan social mapping sesuai dengan local wisdom, dengan potensi masyarakat yang ada di sana," kata Zainal, pada Medcom.id, Selasa, 20 Oktober 2020.

    Setelah kelompok terbentuk, Pertagas memberikan pelatihan dan pendampingan hingga akhirnya diarahkan bisa berproduksi mandiri dan mengakses permodalan. Sebab, CSR yang dilakukan Pertagas pada dasarnya tidak memberikan bantuan dalam bentuk pinjaman modal, tetapi lebih diarahkan pada membangun kapasitas diri agar menuju kemandirian.

    Salah satu kelompok yang baru bergabung dalam program pendampingan ini yaitu Kelompok Pengolah Sampah Budidaya Maggot Black Soldier Fly di Sidoarjo. Dilatarbelakangi adanya Kampung Ikan Asap di wilayah itu yang sisa limbah perut ikannya belum dioptimalkan. Limbah tersebut akan dibudidayakan menjadi maggot yang bisa digunakan sebagai alternatif pakan ikan.

    Selain itu kelompok ini juga menggandeng Resto Apung Seba yang merupakan kelompok binaan Pertagas dalam usaha kuliner untuk memanfaatkan sisa sampah organik resto.

    Zainal mengatakan ketika nantinya kelompok telah establish dan memiliki akses permodalan maka dianggap sudah mandiri. Dalam mendapatkan akses permodalan, Pertagas juga membantu kelompok dengan mendorong mengajukan bantuan permodalan melalui jalur Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) yang dimiliki Pertamina selaku holding migas.

    "Salah satu parameter kita ingin teman-teman kelompok ini mandiri, punya akses terhadap layanan modal, itu sudah kami fasilitasi dan sudah diberikan bantuan pada kelompok pengasap ikan di Sidoarjo di akhir 2019. Kita bantu untuk dapat akses program kemitraan Pertamina. Ada 21 anggota kelompok yang akhirnya punya akses modal pakai pinjam Pertamina," ujar Zainal.

    Diversifikasi usaha

    Di masa pandemi, dengan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berdampak pada mobilitas dan juga usaha yang dijalankan kelompok, Pertagas pun mengaktifkan radar mitigasi untuk memonitor perkembangan para mitranya tersebut. Seperti yang dilakukan di Kelompok Resto Apung Seba.

    Resto yang berada di Desa Penatarsewu, Sidoarjo ini sempat menutup operasional untuk pelanggan yang makan di tempat (dine in). Namun, dibantu tim pendamping dari Pertagas, kelompok ini mencari cara agar tetap bisa mendapat penghasilan di masa pandemi yakni dengan membuat resto menjadi dapur umum siaga covid-19.

    Dapur ini menyediakan makanan sehat bagi satuan tugas (satgas) covid di wilayah tersebut termasuk memasok makanan untuk tenaga medis di RSUD Sidoarjo. Selain itu juga dibukakan akses pada teknologi layanan pesan antar melalui platform ojek daring.

    "Kami sempat khawatir, namun alhamdulillah selalu ada jalan di tengah kesulitan. Kami tetap terima pesanan katering dan antar makanan ke pelanggan," kata salah satu anggota Kelompok Resto Apung Seba, Erni.

    Diversifikasi usaha juga dilakukan oleh Komunitas Tuli Gresik (Kotugres) yang selama ini memproduksi pakaian, serta aneka produk konveksi seperti mukena dan kerajinan tangan. Sebelum pandemi, rata-rata produksi kelompok ini 20-30 potong pakaian jadi.

    Namun selama pandemi karena produksi tersebut menurun, Kotugres akhirnya memanfaatkan sisa-sisa kain perca menjadi masker. Masker tersebut dibagikan ke masyarakat. "Teman-teman ingin ikut berkontribusi dalam penanggulangan wabah. Akhirnya ada inisiatif buat masker," kata Ketua Unit Pelayanan Teknis (UPT) Resource Center Gresik, Innik Hikmatin

    Innik menambahkan berkat diversifikasi ini membuat usaha Kotugres tetap berjalan di masa pandemi. Bahkan beberapa perusahaan juga memesan produk masker Kotugres.
     

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id