Satu Juta Pelanggan Listrik Terpasang Smart Meter di 2022

    Suci Sedya Utami - 12 Februari 2021 15:31 WIB
    Satu Juta Pelanggan Listrik Terpasang <i>Smart</i> Meter di 2022
    Ilustrasi pemasangan smart meter - - Foto: MI/ Angga Yuniar
    Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan sebanyak satu juta pelanggan listrik akan terpasang smart meter pada 2022. Sistem smart grid ini sebagai pengganti meter listrik konvensional.

    Smart grid
    diyakini mampu membuat sistem tenaga listrik secara optimal dan efisien dengan memanfaatkan interaksi dua arah baik antara produsen listrik dengan konsumen. "Ruang lingkup smart grid luas sekali. Mulai dari pembangkit dan automasi sistem transmisi, integrasi pembangkit terbarukan dan automasi sistem distribusi, hingga pemanfaatan dan pembangkitan mandiri," ujar Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Wanhar, dilansir dari laman resmi Kementerian ESDM, Jumat, 12 Februari 2021.

    Keberadaan smart grid, sambung Wanhar, mampu membuat konsumen menjadi produsen (prosumer). Misalnya, pelanggan yang memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di rumah dapat mengirim tenaga listrik ke sistem PT PLN (Persero) dan tetap bisa memakai listrik dari PLN.

    Implementasi smart grid sendiri telah dirintis oleh BPPT sejak tahun 2013 di Sumba, Nusa Tenggara Timur dengan skala kecil (Smart Micro Grid). Pembangunan tersebut merupakan hasil integrasi antara Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), PLTS dan baterai, serta Jaringan Tegangan Menengah (JTM) 20 kilo volt (kV).

    "Sistem tenaga listrik di Sumba beroperasi secara otomatis sesuai program algoritma untuk menyuplai beban. Beban dasarnya 1.200 kW dengan beban puncak 2.100 kW," ungkap Wanhar.

    Sementara untuk komunikasi sistem dilakukan melalui Power Line Communication (PLC). Adapun automasi kontrol dan monitoring melalui Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) master station. Untuk kestabilan variable renewable energy (VRE) yang sifatnya intermittent pada jaringan tersebut disokong dengan dengan baterai (battery storage).


    "Di Sumba, beban puncak dan beban dasar jaraknya sangat jauh. Ini mencerminkan bebannya masih didominasi oleh rumah tangga. PLTS digunakan siang hari sekitar lima jam. Ini digunakan untuk mengecas baterai 500 kWh. Ketika beban puncak pada malam hari, baterai digunakan untuk menyuplai jaringan di Sumba. Ini mengurangi beban PLTD ataupun PLMTH. Ketika PLTS hilang dari sistem karena hujan atau mendung, bisa dengan cepat digantikan dengan PLTD yang dayanya cukup besar," jelas Wanhar.

    Selain di Sumba, smart grid juga diterapkan untuk demo plant di Baron Techno Park, Gunung Kidul, Yogyakarta serta Floating PV (PLTS Terapung)-Battery PLTA Cirata.

    Koordinator Perlindungan Konsumen Ketenagalistrikan Sugeng Prahoro menambahkan penggunaan smart grid juga dapat meningkatkan mutu dan keandalan tenaga listrik. Lebih lanjut Sugeng menjelaskan, perkiraan biaya investasi untuk menggantikan meter pascabayar senilai Rp10 triliun dalam jangka waktu 15 tahun.

    "Pemasangan smart meter diutamakan untuk konsumen potensial dan wilayah yang layak dalam pembangunan infrastruktur AMI (Advanced Metering Infrastructure). Pada 2022, diproyeksikan telah terpasang meter AMI sebanyak satu juta konsumen," tutup Sugeng.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id