Investasi EBT Ditargetkan Rp28,9 Triliun, PLTS Atap Paling Menarik

    Suci Sedya Utami - 16 April 2021 16:19 WIB
    Investasi EBT Ditargetkan Rp28,9 Triliun, PLTS Atap Paling Menarik
    Ilustrasi investasi di sektor energi terbarukan - - Foto: Medcom



    Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan nilai investasi proyek-proyek energi baru terbarukan (EBT) sebesar USD2,05 miliar atau setara Rp28,9 triliun.

    Target tersebut meningkat dari  capaian investasi di 2020 yang sebesar USD1,36 miliar atau sekitar Rp19,2 triliun. Salah satu sumber EBT yang dipacu untuk mencapai target tersebut yakni energi surya.






    Energi surya terbilang memiliki potensi paling besar di Indonesia, yakni sekitar 207,8 gigawatt (GW). Pemerintah pun menargetkan akan ada penambahan pembangkit listrik 138,8 megawatt (MW) dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di tahun ini.

    Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan pemasangan PLTS Atap relatif mudah, dan biaya instalasinya pun terus menurun.

    "Tak salah, dalam beberapa tahun belakangan minat pasar terhadap PLTS Atap mengalami lonjakan pesat," kata Dadan dilansir dari laman resmi Kementerian ESDM, Jumat, 16 April 2021.

    Ia mengatakan per Januari 2021 sudah ada 3.152 pelanggan dengan total kapasitas terpasang mencapai 22,632 Mega Watt peak (MWp). Dadan mengatakan penambahan kapasitas PLTS Atap tahun ini ditargetkan menjadi 70 MW, meningkat dari realisasi tahun lalu yang sebesar 13,4 MW.

    Ia bilang, pemasangan PLTS Atap secara teknis dapat mengurangi biaya tagihan listrik bulanan sekitar 30 persen dari pemakaian listrik PLN. Ini tergantung kapasitas daya PLTS Atap yang dipasang dan konsumsi listrik tiap bulannya.

    "Bahkan bila ada kelebihan tenaga listrik, 65 persen nilai kWh ekspor menjadi pengurang tagihan listrik bulan berikutnya," kata Dadan.

    Perhitungan nilai ekspor maksimal 65 persen, sambung Dadan, mempertimbangkan biaya distribusi dan biaya pembangkitan PLN sekitar 2/3 dari harga tarif listrik. Selain itu, nilai 35 persen dianggap sebagai kompensasi biaya penyimpanan tenaga listrik PLTS Atap di PLN.

    "Melihat efisiensi dan menjaga keberlangsungan bisnis PLN, kapasitas sistem PLTS Atap dibatasi paling tinggi 100 persen dari daya tersambung konsumen PLN," ujar dia.

    Atas dasar penghematan tersebut, hasil analisa Advokasi dan Edukasi Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) menyatakan investasi PLTS Atap dinilai lebih menarik dibandingkan dengan bunga deposito. Tentu, kondisi ini dibarengi dengan dukungan dari sektor perbankan sehingga menjadi sinyal positif dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia.


    Dukungan ini setidaknya telah diberikan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) dengan melakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan Dewan Energi Nasional (DEN) dan PT Len Industri (Persero) pada Januari lalu. Bank Himbara (Himpunan Bank Negara) tersebut berkomitmen membiayai pemasangan PLTS Atap dengan tingkat bunga rendah dan jangka waktu pinjaman hingga 15 tahun.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id