Investasi Diperkirakan Belum akan Masuk di 2021, Ini Alasannya

    Husen Miftahudin - 02 Desember 2020 16:05 WIB
    Investasi Diperkirakan Belum akan Masuk di 2021, Ini Alasannya
    Ekonom senior Chatib Basri mengatakan ketidakpastian pasar masih akan membayangi ekonomi Indonesia tahun depan. Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin.
    Jakarta: Ekonom senior Chatib Basri mengatakan ketidakpastian pasar masih akan membayangi ekonomi Indonesia tahun depan. Namun, kebijakan pemerintah melakukan pembatasan wilayah secara parsial telah menyelamatkan ekonomi dari ancaman resesi.

    Menurut data Dana Moneter Internasional (IMF), pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun ini bakal terkontraksi di kisaran minus 1,5 persen hingga minus 3,3 persen. Kontraksi ekonomi RI di 2020 ini dianggap masih lebih baik ketimbang negara-negara di Asia Tenggara lainnya.

    "Ini masih wajar jika dibandingkan dengan negara lain seperti Malaysia yang minus 6,4 persen dan Filipina yang bisa minus hingga 10 persen," ucap Chatib dalam dalam acara Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2020 New Normal secara virtual, Rabu, 2 Desember 2020.

    Mantan Menteri Keuangan (Menkeu) ini juga memperkirakan bahwa investasi swasta belum akan masuk pada 2021. Dalam hal ini, Chatib membeberkan dua alasannya.

    Pertama, karena kemampuan pemerintah dalam mengatasi pandemi yang saat ini masih menjalankan protokol kesehatan. Kedua, permintaan pasar domestik dan ekspor yang diperkirakan masih sangat lemah.

    "Akibat pandemik, sektor swasta tidak bisa beroperasi secara normal, sehingga kapasitas ekonomi tidak dapat dimanfaatkan secara utuh. Maka ekonomi tidak akan pulih sepenuhnya tahun depan dan diperkirakan akan kembali normal pada 2022," papar Chatib.

    Dalam waktu dekat, lanjutnya, akan sulit bagi beberapa industri untuk mencapai titik keseimbangan atau break even point (BEP). Khususnya pada bisnis yang mengandalkan pengalaman konsumen seperti perhotelan.

    "Ekspor Indonesia sangat bergantung dengan Tiongkok, dan Tiongkok sangat bergantung dengan Eropa. Ekonomi Eropa diperkirakan tidak akan pulih lebih cepat dari 2022. Maka, sektor domestik yang harus dikuatkan untuk menopang perekonomian Indonesia," jelasnya.

    Pada kesempatan yang sama, Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin menyebutkan ada beberapa sektor yang tumbuh positif di tengah resesi, antara lain sektor pertanian yang tumbuh 2,15 persen, pemasok air positif 6,04 persen, komunikasi 10,83 persen, serta jasa keuangan 1,05 persen.

    Dia bilang, perubahan kebijakan menjadi kunci utama dalam mendorong pemulihan ekonomi. Sektor pertanian masih dipercaya untuk menjadi andalan dalam menghadapi ancaman resesi ekonomi dengan dukungan terhadap petani.

    "Berbicara tentang sektor pertanian, tentu subsektor utamanya adalah perkebunan sawit. Namun sektor minyak sawit tetap menghadapi ketidakpastian pasar ekspor dan program mandatori B-30 telah menyelamatkan industri sawit saat ini," pungkas Bustanul. 

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id