Mentan Lepas Ekspor Magot ke Inggris

    Gervin Nathaniel Purba - 04 Desember 2020 20:56 WIB
    Mentan Lepas Ekspor Magot ke Inggris
    Mentan Syahrul Yasin Limpo melepas ekspor magot. (Foto: Dok. Kementan)
    Kampar: Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo melepas ekspor larva kering atau magot black fly soldier (BSF) sebanyak empat ton. Magot tersebut akan diekspor ke Inggris.

    Maggot merupakan salah satu jenis lalat yang dapat dibudiayakan untuk sumber pakan alternatif bagi sejumlah hewan ternak, seperti unggas, ikan, iguana, dan burung.

    “Kembali menjadi bukti, apapun yang kita hasilkan dari bumi Indonesia yang kaya ini sangat dibutuhkan negara lain. Yang dibutuhkan adalah kita melompat dengan cara-cara yang baru dan dengan skala produksi yang lebih besar,” kata Syahrul, saat menyerahkan sertifikasi ekspor karantina kepada PT Biocycle Indo selaku pemilik komoditas, di Kabupaten Kampar, Riau, dikutip keterangan tertulis, Jumat, 4 Desember 2020. 

    Menurutnya, sejalan dengan arahan Presiden Jokowi untuk menangkap peluang besar pasar sektor pertanian baik di Asia maupun  dunia, Kementan melakukan langkah operasional untuk mendorong pelaku usaha dengan membuka akses pasar.

    Salah satunya melalui kerja sama harmonisasi aturan protokol ekspor, ketentuan sanitari, dan fitosanitari produk pertanian dengan negara tujuan ekspor. Saat ini aturan kebijakan tarif pada perdagangan internasional sudah tidak lagi populer, sehingga hanya produk pertanian yang sehat dan aman dari hama penyakit hewan dan tumbuhan jadi syarat keberterimaan produk pertanian di pasar global.

    Untuk itu, penguatan sistem perkarantinaan menjadi mutlak, karena dengan otoritas yang dimiliki dapat menjamin kesehatan dan keamanan produk pertanian hingga dapat berdaya saing tinggi. Penguatan baik berupa sarana dan prasarana untuk meningkatkan pengawasan dan perlindungan, sekaligus berupa inovasi dan terobosan percepatan layanan dengan memanfaatkan teknologi informasi.

    “Pertanian tidak boleh hancur dan ini merupakan tanggung jawab kita bersama semua," kata Syahrul. 

    Budi Tanaka, eksportir magot menyampaikan bahwa usaha yang dibangun sebelumnya di Bogor, Jawa barat. Kini, dia mengembangkan usahanya di Riau karena bahan baku berupa produk samping sawit tersedia berlimpah. 

    Hal itu membuat dia dapat mengembangbiakan magot dengan skala yang lebih besar. “Kebijakan dan aturan pemerintah daerah juga mendukung. Untuk akses pasar juga dibantu pihak karantina pertanian, khususnya jika ada hambatan protokol ekspornya,“ kata Budi.

    Selain melepas ekspor ragam komoditas baru, Syahrul juga melepas 11 komoditas pertanian asal Riau lainnya. Masing-masing adalah kelapa dan turunannya, keladi, produk olahan nanas, dan lainnya dengan total volume 117.288 ton senilai Rp716 miliar. 

    Adapun negara tujuan ekspor berjumlah 18, di antaranya Amerika Serikat, Turki, Tiongkok, Korea Selatan, Estonia, dan Malaysia.

    Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementan Ali Jamil yang turut hadir mendampingi Syahrul menambahkan, bahwa ekspor kali ini dilakukan melalui beberapa lokasi di wilayah kerja Karantina Pertanian Pekanbaru. 

    “Provinsi Riau dengan potensi pertanian yang besar telah dikelola dengan baik oleh pemda, petani, dan juga pelaku usaha. Berbagai program dan gerakan yang digagas mampu memberikan dorongan yang positif baik petani, pelaku usaha, bahkan masyarakat Riau,” ujar Jamil.


    (ROS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id