comscore

Larangan Ekspor CPO Dorong Inflasi Pangan Dunia

Fetry Wuryasti - 26 April 2022 15:09 WIB
Larangan Ekspor CPO Dorong Inflasi Pangan Dunia
Ilustrasi kelapa sawit - - Foto: MI/ Gino
Jakarta: Kebijakan pelarangan ekspor Crude Palm Oil (CPO) oleh Indonesia direspons dengan kenaikan harga indeks future CPO pengiriman Juli sebesar enam persen ke level 6.738 ringgit Malaysia per ton atau tertinggi sejak Maret lalu.
 
Kenaikan harga terjadi lantaran hampir 60 persen pasokan minyak sawit global berasal dari Indonesia sebagai produsen minyak nabati. Lebih dari 1/3 dari seluruh suplai global yang sebesar 30,5 juta ton dibandingkan Malaysia 17,6 juta ton, Argentina 6,8 juta ton, dan Ukraina 5,4 juta ton.

"Hal ini tentu berdampak pada inflasi pangan global yang semakin tinggi," kata Nico dalam keterangan resmi, Selasa, 26 April 2022.
Sebagai komoditas utama Indonesia, larangan tersebut juga dapat berimbas pada sejumlah leading indikator ekonomi Indonesia seperti ekspor, neraca dagang, cadangan devisa bahkan nilai tukar rupiah, yang pada akhirnya berpengaruh pada prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Saat ini nilai tukar rupiah yang masih relatif stabil karena maraknya aktivitas ekspor, telah depresiasi sebesar 0,65 persen. Dengan larangan ekspor, kebijakan yang diterapkan yaitu bea keluar USD200 per ton dengan biaya pungutan sebesar USD375 per ton tidak berlaku sementara waktu. Industri perkebunan sawit seolah kehilangan tenaga dengan kebijakan tersebut.

Disparitas harga antara pasar domestik dan internasional sudah terlihat sejak kuartal akhir tahun lalu sebelum perang Rusia-Ukraina yang disebabkan cuaca buruk dan kekurangan suplai dari Malaysia akibat penurunan produksi.

Sehingga harga CPO terus mengalami kenaikan dan sangat menarik untuk menaikan neraca keuangan emiten sawit. Larangan ekspor tentu berpotensi menurunkan kinerja keuangan emiten sawit.

Tak hanya itu, pelaku pasar juga seketika merespons kebijakan tersebut dengan pelepasan saham, sehingga penurunan nilai saham tak terbendung. Saham Astra Agro Lestari misalnya yang merupakan market leader di industri perkebunan sawit, nilai sahamnya telah turun hampir tujuh persen secara antar hari.

Padahal saat ini adalah momentum untuk terus meningkatkan kinerja penjualan dari aktivitas ekspor yang harga acuannya tinggi, namun suplai domestik lebih membutuhkan bantuan untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga dalam negeri.

Kalau berkaca pada kebijakan pencabutan izin ekspor batubara pada Januari lalu akibat tidak terpenuhinya kewajiban DMO, emiten batu bara langsung gencar memenuhi kewajiban DMO-nya.

Selang hampir sebulan, larangan ekspor tersebut dicabut. Diharapkan pencabutan larangan ekspor minyak goreng dan bahan baku minyak ini kembali mendorong perusahaan sawit untuk meningkatkan pasokan minyak goreng dalam negeri sehingga harganya dapat kembali normal, sehingga larangan ekspor dapat dicabut dan emiten sawit dapat kembali menikmati momentum harga acuan global yang tinggi melalui ekspor.

"Secara jangka pendek, tentu pelarangan ini akan memberikan tekanan terhadap pelaku pasar dan investor. Namun secara jangka menengah dan panjang kami melihat sektor ini masih memiliki prospek. Sehingga kami melihat, apabila ada pelemahan yang terjadi, kesempatan menjadi sebuah pilihan," pungkas Nico. 

(Des)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id