comscore

Tekan Perubahan Iklim, Korporasi Perlu Percepat Inisiatif Keberlanjutan Global

Angga Bratadharma - 18 Mei 2022 09:37 WIB
Tekan Perubahan Iklim, Korporasi Perlu Percepat Inisiatif Keberlanjutan Global
Ilustrasi. FOTO: NTT Ltd
Jakarta: NTT Ltd, perusahaan bisnis dan teknologi global, mengaku siap membantu bisnis/korporasi mempercepat inisiatif keberlanjutan global dan mengambil keputusan berdasarkan data. Hal itu untuk mengurangi jejak karbon melalui penggunaan konektivitas IoT yang cerdas yang harapannya bisa menekan perubahan iklim.
 
Head of Urban Transformation World Economic Forum (WEF) Jeff Merritt mengungkapkan teknologi IoT adalah alat krusial dalam perjuangan global melawan perubahan iklim. Pihaknya mengaku memahami tindakan apa yang perlu diambil untuk membangun masa depan yang lebih berkelanjutan dan memiliki rangkaian teknologi kuat.

"Yang membantu untuk mewujudkan tujuan tersebut. Seiring dengan dunia ingin mempercepat implementasi solusi ini, organisasi seperti NTT akan memainkan peran penting dalam membantu perusahaan dan pemerintah untuk memanfaatkan peluang ini," kata Jeff, dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 18 Mei 2022.
Solusi IoT NTT untuk keberlanjutan menggabungkan integrasi TI/OT yang aman dan secara menyeluruh (end-to-end). Hal ini dapat membantu perusahaan melihat dengan cepat manfaat teknologi tersebut setelah penerapan di seluruh proses bisnis.

Berbagai manfaatnya mencakup penghematan biaya energi, pengurangan emisi yang lebih cepat, keunggulan operasional yang canggih, dan pemberdayaan sistem kerja yang lebih baik di seluruh organisasi. Solusi IoT NTT juga didukung oleh jaringan LoRaWAN, termasuk katalog sensor yang mengukur, memantau, dan mengumpulkan data guna mendorong tujuan keberlanjutan.

Harus terus terjaga

Sementara itu, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan kesadaran terhadap dampak negatif perubahan iklim harus terus terjaga. Hal itu menjadi penting agar target pada Perjanjian Paris dapat tercapai dan tidak memengaruhi PDB.
 
"Kesadaran terhadap dampak negatif perubahan iklim harus terus dijaga. Kita komitmen untuk menurunkan 29 persen di 2030 sendiri dan 41 persen dengan bantuan internasional," kata Airlangga Hartarto dalam Green Economy Indonesia Summit 2022: The Future Economy of Indonesia.
 
Airlangga mengatakan jika target net zero emission tercapai, PDB dunia akan turun sebesar 10 persen, dengan Asia Tenggara merupakan salah satu daerah maupun regional yang berisiko tinggi. Selain itu berdasarkan climate economic index juga menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang sangat rentan, terutama ketika memasuki musim kemarau.

Pemerintah pun khususnya melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah bersiap menghadapi kebakaran hutan. Upaya mewujudkan green economy juga didorong melalui G20 dengan membahas pembiayaan berkelanjutan untuk sumber pembiayaan yang berbasis pada pembangunan multilateral.
 
Indonesia bersama Asian Development tengah membahas skenario pembangunan energi berbasis rendah karbon yang menghasilkan dari segi ekonomi. "Termasuk pilot project terkait kegiatan mengurangi emisi yang ditargetkan di 2060. Diharapkan prototyping daripada PLTU bisa di finance dan ini dibahas skenarionya dengan Asian Development Bank,” pungkasnya.

(ABD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id