Respons Pemerintah Melalui APBN Jadi Kunci di Masa Pandemi

    Eko Nordiansyah - 30 Juni 2020 10:31 WIB
    Respons Pemerintah Melalui APBN Jadi Kunci di Masa Pandemi
    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Foto : MI.
    Jakarta: Krisis yang terjadi karena pandemi covid-19 saat ini dipandang sangat berbeda dengan krisis keuangan Asia 1998 maupun krisis keuangan global 2008. Dalam masa pandemi yang penuh ketidakpastian ini, pemerintah memiliki peran sangat penting karena hampir semua sektor publik hingga swasta terkena imbas covid-19.

    Hal tersebut disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat menjadi salah satu panelis dalam Toronto Centre Live Webinar dengan tema 'Post Covid-19 Crisis: Implications for Financial Stability, Financial Inclusion, Gender Equality and International Development'.

    "Krisis kali ini berbeda sekali karena kita harus melindungi manusia dan perekonomiannya sekaligus. Untuk membendung penyebaran virus, kita harus membatasi pergerakan manusia. Itu salah satu shock besar karena tidak pernah terjadi sebelumnya," kata dia dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa, 30 Juni 2020.

    Menurutnya, pemerintah harus memikirkan dua sampai tiga langkah ke depan karena pemerintah berperan sangat penting dalam kondisi ini. Untuk itu, pemerintah langsung merespon dengan cepat dengan melakukan penyesuaian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

    Dirinya menambahkan pandemi covid-19 ini memukul perekonomian masyarakat secara luas, termasuk rumah tangga dan pelaku usaha. Selain perlindungan sosial, dukungan bagi pelaku usaha, khususnya UMKM sangat penting.

    Salah satu langkah penting adalah restrukturisasi kredit UMKM, dibarengi dengan subsidi bunga dan memberikan kemudahan untuk mendapatkan kredit modal kerja baik melalui penempatan dana murah pada perbankan maupun penjaminan kredit. Apalagi banyak pelaku UMKM adalah wanita, sehingga dukungan ini juga sekaligus berdampak pada inklusi keuangan dan kesetaraan gender.

    Sri Mulyani menyebut satu hal yang berbeda pada krisis kali ini adalah adanya pembatasan sosial. Beruntung saat ini ada kemajuan teknologi sehingga banyak transaksi dilakukan secara online. Terlebih episentrum pandemi di Indonesia yaitu Jakarta, masyarakatnya lebih maju dalam penguasaan teknologi.

    "Sehingga meskipun tidak ada kontak (fisik), transaksi terus berlangsung. Banyak orang beralih menggunakan transaksi dengan teknologi digital. Hal ini mengakselerasi penggunaan teknologi yang (selanjutnya) mentransformasi ekonomi ke digital," ungkap dia.

    Sri Mulyani juga menjelaskan strategi pembiayaan Indonesia di masa pandemi. Di tengah pandemi yang menyebabkan gejolak pasar keuangan, pendalaman pasar dan mengandalkan pembiayaan domestik menjadi sangat penting. Di Indonesia, peningkatan defisit terjadi secara dramatis menjadi di atas enam persen.

    "Kami pertama melihat sumber pembiayaan yang kita miliki sendiri. Selanjutnya pemerintah juga memanfaatkan pasar surat berharga dalam negeri. Di samping itu, dimungkinkannya bank sentral untuk membeli dan berpartisipasi di pasar primer juga menjadi satu hal kritikal. Terakhir, peran lembaga keuangan multilateral dan bilateral juga sangat penting dalam memberikan pinjaman dengan bunga yang rendah," pungkasnya.




    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id